assalamu'alaiku wr wb
!ni ceritaku yg pertama kali. . .namaku Moch. Naim Amrustian, saya akan mencritakan tentang kejadian yg di alami oleh ayahku.
Sekitar 1 tahun yang lalu ayahq di mintai bantuan oleh tanteku membetulkan pompa air yg rusak di rumahnya. Kemudian ayahq berangkat sambil membawa semua peralatan mekanik.
Ketika sampai dirumahnya ayahq langsung memeriksa pompa tersebut. Kenapa kug tidak bisa menyala. . .? . Ternyata kabel pompa tersebut ada yang putus. Kemudian di sambung dan akhirnya menyala pompa tersebut.
Ayahku pun beres2 dan bergegas pulang. Tetapi 1 meter jarak ayahq dari pompa itu, tiba-tiba saja mati lagi pompa itu. Ayahqku pun kembali menuju pompa itu. Tiba2 pompa itu menyalah lagi. Ketika di tinggal mati lagi. Begitupun sebaliknya. Ayahku pun penasaran dan berusaha mencari tau.
Betapa kagetnya ayahku ketika melihat atas tepat di atas pompa ada sesosok wanita cantik berambut panjang dan berbaju putih. Ayahku pun berkata padanya " aku gak ganggu awakmu, tapi awakmu yow ojok ganggu aku " (saya tidak mengganggu kamu, maka kamu jangan mengganggu aku). Kemudian ayahku langsung pulang dan melanjutkan keesokan harinya.
Keesokan hari ayahku kembali ke pompa itu. Ayahku semakin kaget , ternyata jadi ada 3 sosok wanita berambut panjang. Ayah pun bertekad membetulkan pompa itu dan mengawali dg membaca Bissmillah kemudian ayahku menatap ke 3 hantu itu dan berkata " aku gak ganggu awakmu, tapi awakmu yow ojok ganggu aku " (saya tidak mengganggu kamu, maka kamu jangan mengganggu aku). Akirnya ayah pun membetulkan pompa itu dg di temani ke 3 hantu tsb tanpa di ganggunya." Alhamdulillah selesai" (terucap dari mulut ayah) ayahpun pulang dan tak lupa sambil memandang ke 3 hantu tsb dan berkata "good bye".
gokiljeck.com
Selasa, 06 Desember 2011
Sabtu, 03 Desember 2011
"CiNTA Kdg g' Adil Knp Cnt Pd Pasangn Lbh Bsar Drpd Cnt Kpd ALLAH?Pcr Marah !Qta Mati2an Mnt M'f !Gmn Klo ALLAH Marah?Ap Kt B'doa Shrian Agr ALLAH Mmafkn Kt?Pcr suruh K Rmh!Pst Kt Dtg Dg Snang Ht!Tp Jk ALLAH sruh Kt Dtg KRmh NYA dng seruan azanKt Seolah2 tk mndngr...Buatlh Org Sadar!Bhw Cnt Pd ALLAH Lbh Pnting dr Cnt Appn..
"CiNTA Kdg g' Adil Knp Cnt Pd Pasangn Lbh Bsar Drpd Cnt Kpd ALLAH?Pcr Marah !Qta Mati2an Mnt M'f !Gmn Klo ALLAH Marah?Ap Kt B'doa Shrian Agr ALLAH Mmafkn Kt?Pcr suruh K Rmh!Pst Kt Dtg Dg Snang Ht!Tp Jk ALLAH sruh Kt Dtg KRmh NYA dng seruan azanKt Seolah2 tk mndngr...Buatlh Org Sadar!Bhw Cnt Pd ALLAH Lbh Pnting dr Cnt Appn..
Jumat, 28 Oktober 2011
ASKEP APENDIK Pengertian Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer,2000). Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi (Wilson & Goldman, 1989) .Apendiksitis merupakan penyakit prototip yang berlanjut melalui peradangan, obstruksi dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi (Sabiston, 1995). Apendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). B. Etiologi 1. Menurut Syamsyuhidayat, 2004 : Fekalit/massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat. Tumor apendiks. Cacing ascaris. Erosi mukosa apendiks karena parasit E. Histolytica. Hiperplasia jaringan limfe. 2. Menurut Mansjoer , 2000 : Hiperflasia folikel limfoid. Fekalit. Benda asing. Striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. Neoplasma. 3. Menurut Markum, 1996 : Fekolit Parasit Hiperplasia limfoid Stenosis fibrosis akibat radang sebelumnya Tumor karsinoid C. Patofisiologi Menurut Mansjoer, 2000: Apendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks akan menyebabkan obstruksi dan akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan. Obstruksi yang terjadi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukus. Pada saat ini terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Sumbatan menyebabkan nyeri sekitar umbilicus dan epigastrium, nausea, muntah. invasi kuman E Coli dan spesibakteroides dari lumen ke lapisan mukosa, submukosa, lapisan muskularisa, dan akhirnya ke peritoneum parietalis terjadilah peritonitis lokal kanan bawah.Suhu tubuh mulai naik.Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di area kanan bawah. Keadaan ini yang kemudian disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark diding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh pecah, akan menyebabkan apendisitis perforasi. Bila proses tersebut berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut akan menyebabkan abses atau bahkan menghilang. Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan demikian ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah. Tahapan Peradangan Apendisitis 1. Apendisitis akuta (sederhana, tanpa perforasi) 2. Apendisitis akuta perforate ( termasuk apendisitis gangrenosa, karena dinding apendiks sebenarnya sudah terjadi mikroperforasi) D. Manifestasi Klinik 1. Menurut Betz, Cecily, 2000 : Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah Anoreksia Mual Muntah,(tanda awal yang umum, kuramg umum pada anak yang lebih besar). Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis. Nyeri lepas. Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali. Konstipasi. Diare. Disuria. Iritabilitas. Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama. 2. Manifestasi klinis menurut Mansjoer, 2000 : Keluhan apendiks biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, dan muntah. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin progresif, dan denghan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda Rovsing, psoas, dan obturatorpositif, akan semakin meyakinkan diagnosa klinis. Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari : Mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8° Celsius. Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. E. Komplikasi 1. Menurut Hartman, dikutip dari Nelson, 1994 : Perforasi. Peritonitis. Infeksi luka. Abses intra abdomen. Obstruksi intestinum. 2. Menurut Mansjoer, 2000 : Apendiksitis adalah penyakit yang jarang mereda dengan spontan, tetapi peyakit ini tidak dapat diramalkan dan mempunyai kecenderungan menjadi progresif dan mengalami perforasi. Karena perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama, observasi aman untuk dilakukan dalam masa tersebut. Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi, ileus, demam, malaise, leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau pembentukan abses telah terjadi sejak klien pertam akali datang, diagnosis dapat ditegakkan dengan pasti. Bila terjadi peritonitis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah operasi untuk menutup asal perforasi. Sedangkan tindakan lain sebagai penunjang : tirah baring dalam posisi fowler medium, pemasangan NGT, puasa, koreksi cairan dan elektrolit, pemberian penenang, pemberian antibiotik berspektrum luas dilanjutkan dengan pemberian antibiotik yang sesuai dengan kultur, transfusi utnuk mengatasi anemia, dan penanganan syok septik secara intensif, bila ada. Bila terbentuk abses apendiks akan teraba massa di kuadran kanan bawah yang cenderung menggelembung ke arah rektum atau vagina. Terapi dini dapat diberikan kombinasi antibiotik (misalnya ampisilin, gentamisin, metronidazol, atau klindamisin). Dengan sediaan ini abses akan segera menghilang, dan apendiktomi dapat dilakaukan 6-12 minggu kemudian. Pada abses yang tetap progresif harus segera dilakukan drainase. Abses daerah pelvis yang menonjol ke arah rektum atau vagina dengan fruktuasi positif juga perlu dibuatkan drainase. Tromboflebitis supuratif dari sistem portal jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang letal. Hal ini harus dicurigai bila ditemukan demam sepsis, menggigil, hepatomegali, dan ikterus setelah terjadi perforasi apendiks. Pada keadaan ini diindikasikan pemberian antibiotik kombinasi dengan drainase. Komplikasi lain yang terjadi ialah abses subfrenikus dan fokal sepsis intraabdominal lain. Obstruksi intestinal juga dapat terjadi akibat perlengketan. F. Pemeriksaan Pemeriksaan menurut Betz(2002), Catzel(1995), Hartman(1994), antara lain : 1. Anamnesa Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah : 1. Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Muntah oleh karena nyeri viseral. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus). Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri. 2. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. 3. Laboratorium Pemeriksaan darah : lekosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana lebih dari 13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya lekositosis tidak menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis: terdapat pergeseran ke kiri. Pemeriksaan urin : sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau vesika. Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. G. Penatalaksanaan Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 : 1. Sebelum operasi Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi Pemasangan kateter untuk control produksi urin. Rehidrasi Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena. Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai. Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi. 2. Operasi Apendiktomi. Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika. Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan. 3. Pasca operasi Observasi TTV. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi semi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien dipuasakan. Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal. Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2×30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang. Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai dengan : 1. Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri. Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan, karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi. Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan : 1. Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak tinggi lagi. Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan. Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal. Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan istirahat di tempat tidur. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau tanpa peritonitis umum. Asuhan Keperawatan Anak dengan Apendiksitis A. Pengkajian Pengkajian menurut Wong (2003), Doenges (1999), Catzel (1995), Betz (2002), antara lain : 1. Wawancara Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai : 1. Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas. Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. kesehatan klien sekarang ditanyakan kepada orang tua. Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat. Kebiasaan eliminasi. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat. Sirkulasi : Takikardia. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang- kadang. Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus. Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. Demam lebih dari 380C. Data psikologis klien nampak gelisah. Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat. 3. Pemeriksaan Penunjang Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat “ileal atau caecal ileus” (gambaran garis permukaan cairan udara di sekum atau ileum). Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. Peningkatan leukosit, neutrofilia, tanpa eosinofil. Pada enema barium apendiks tidak terisi. Ultrasound: fekalit nonkalsifikasi, apendiks nonperforasi, abses apendiks. B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang muncul pada anak dengan kasus apendiksitis berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan menurut NANDA (2006) antara lain : Pre Operasi 1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit. 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,muntah, anoreksia. Post Operasi 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan. 2. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat. C. Intervensi Keperawatan Intervensi menurut Mc.Closkey (1996) Nursing Intervention Classsification (NIC), dan hasil yang diharapkan menurut Johnson (2000) Nursing Outcome Classification ( NOC) , antara lain : Pre Operasi Dx I. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit. Tujuan :Nyeri dapat berkurang atau hilang. Kriteria Hasil : Nyeri berkurang Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah Kegelisahan atau keteganganotot Mempertahankan tingkat nyeri pada skala 0-10. Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif untuk mencapai kenyamanan. Intervensi Lakukan pengkajian nyeri, secara komprhensif meliputi lokasi, keparahan, factor presipitasinya. Observasi ketidaknyamanan non verbal. Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien, hadir dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase, perubahan posisi, berikan perawatan yang tidak terburu- buru. Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan. Anjurkan pasien untuk istirahat. Libatkan keluarga dalam pengendalian nyeri pada anak. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic. Dx II. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,muntah, anoreksia. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nutrisi pasien adekuat. Kriteria Hasil : Mempertahankan berat badan. Toleransi terhadap diet yang dianjurkan. Menunjukan tingkat keadekuatan tingkat energi. Turgor kulit baik. Intervensi Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan. Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya. Minimalkan faktor yang dapat menimbulkan mual dan muntah. pertahankan higiene mulut sebelum dan sesudah makan. Post Operasi Dx. I. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang. Kriteria Hasil : Nyeri berkurang Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah Mempertahankan tingkat nyeri pada skala 0-10. Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif untuk mencapai kenyamanan. Intervensi Lakukan pengkajian nyeri, secara komprhensif meliputi lokasi, keparahan. Observasi ketidaknyamanan non verbal Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien, hadir dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase, perubahan posisi, berikan perawatan yang tidak terburu- buru. Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan. Anjurkan pasien untuk istirahat dan menggunakan tenkik relaksai saat nyeri. Libatkan keluarga dalam pengendalian nyeri pada anak. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic. Dx II. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keseimbangan cairan pasien normal dan dapat mempertahankan hidrasi yang adekuat. Kriteria Hasil : Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas, turgor kulit, membran mukosa lembab. Tidak ada rasa haus yang berlebihan. Intervensi Pertahankan catatan intake dan output yang akurat. Monitor vital sign dan status hidrasi. Monitor status nutrisi Awasi nilai laboratorium, seperti Hb/ Ht, Na+ albumin dan waktu pembekuan. Kolaborasikan pemberian cairan intravena sesuai terapi. Atur kemungkinan transfusi darah. Daftar Pustaka Betz, Cecily L, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri, Edisi 3. Jakarta: EGC Catzel, Pincus.1995. Kapita Selekta Pediatri. Jakarta: EGC. Dongoes. Marilyn. E.dkk 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencana Pendokumentasian Perawatan Klien. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Johnson, Marion,dkk. Nursing Outcome Classification (NOC). St. Louis, Missouri: Mosby Yearbook,Inc. Markum.1991.Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI. Mansjoer. A. Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius. Mc. Closkey, Joanne. 1996. Nursing Intervention Classsification (NIC). St. Louis, Missouri: Mosby Yearbook,Inc. Nelson.1994.Ilmu Kesehatan Anak.Vol 2.Jakarta: EGC. Sabiston, D.C. 1995. Buku Ajar Bedah. Jakarta : EGC. Syamsuhidayat. R & De Jong W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2 .Jakarta : EGC. Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawtan Pediatrik, Edisi 4. Jakarta: EGC ____, 2007, apendisitis, terdapat pada:www. harnawatiarjwordpress.com diakses tanggal 1 Juni 2008
Sabtu, 22 Oktober 2011
Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn. R Dengan Gangguan Sistem Perkemihan : Post Pielolitotomy Akibat Urolitiasis Di Ruang VIII RSUD XX BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Konsep Dasar 1. Typhoid a. Definisi Typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu,gangguan pada sistem pencernaan,dan gangguan kesadaran. ( Ngastiyah, 1997: 155 ) Typhoid adalah infeksi akut usus halus. ( Arif mansjoer, 2000 : 421 ) Typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu,dan terdapat gangguan kesadaran.( Suriadi Skp, 2001 : 281 ) Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa typhoid adalah penyakit infeksi akut yang mengenai saluran pencernaan akibat bakteri salmonella thypii b. Anatomi dan Fisiologi Anatomi dan fisiologi ini diambil menurut beberapa sumber, diantaranya : frances Donovan Monahan (1998), www.medicastore.com (2004), Guyton dan Hall (1997), Syarifudin (1997) : Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan, kerongkongan, lambung, usus halus ( Duodenum, yeyenum, dan illeum ), usus besar ( seikum, kolon assenden, kolon tranversum, kolon desenden dan kolon sigmoid ), rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ asesoris yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu. Karya tulis ini membahas tentang typhoid perforasi, yang terjadi didalam usus halus. Maka penulis akan membahas sekilas tentang usus halus yang terdapat didalam saluran pencernaan. 1) Usus Halus (Usus Kecil) Gambar 1 Usus Halus Sumber : Sobotta Lapisan usus halus (gambar 3) terdiri atas 4 lapisan yang sama dengan lambung, yaitu : a) Lapisan luar adalah membran selulosa, yaitu peritornium yang melapisi usus halus dengan erat. b) Lapisan otot polos terdiri atas 2 lapisan serabut, lapisan luar yang memanjang (longitudinal) dan lapisan dalam yang melingkar (serabut sirkuler). Kontraksi otot polos dan bentuk peristaltic usus yang turut serta dalam proses pencernaan mekanis, pencampuran makanan dengan enzim-enzim pencernaan dan pergerakkan makanan sepanjang saluran pencernaan.. Diantara kedua lapisan serabut berotot terdapat pembuluh darah, pembuluh limfe, dan pleksus syaraf. c) Submukosa terdiri dari jaringan ikat yang mengandung syaraf otonom, yaitu plexus of meissner yang mengatur kontraksi muskularis mukosa dan sekresi dari mukosa saluran pencernaan. Submukosa ini terdapat diantara otot sirkuler dan lapisan mukosa. Dinding submukosa terdiri atas jaringan alveolar dan berisi banyak pembuluh darah, sel limfe, kelenjar, dan pleksus syaraf yang disebut plexus of meissner. d) Mukosa dalam terdiri dari epitel selapis kolumner goblet yang mensekresi getah usus halus (intestinal juice). Intestinal juice merupakan kombinasi cairan yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar usus (glandula intestinalis) dari duodenum, jejunum, dan ileum. Produksinya dipengaruhi oleh hormon sekretin dan enterokrinin. Pada lapisan ini terdapat vili yang merupakan tonjolan dari plica circularis (lipatan yang terjadi antara mukosa dengan submukosa). Lipatan ini menambah luasnya permukaan sekresi dan absorpsi serta memberi kesempatan lebih lama pada getah cerna untuk bekerja pada makanan. Lapisan mukosa berisi banyak lipatan Lieberkuhn yang bermuara di atas permukaan, di tengah-tengah villi. Lipatan Lieberkuhn diselaputi oleh epithelium silinder. Gambar 2 Lapisan Usus Halus Sumber : http://humdigest_ 1.google.com/ imgres Usus halus terdiri atas tiga bagian , yaitu: a) Duodenum Duodenum adalah yang paling pendek dari ketiganya, mualai dari dari pyloric sphincter dan bersambung kira-kira 25 cm (10in) sampai bersatu dengan jejunum. Berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini tempat bermuaranya pancreas dan kantung empedu. Terdapat kelenjar blunner yang berfungsi untuk melindungi lapisan duodenum dari pengaruh isi lambung yang asam. Sistem kerjanya adalah kelenjar blunner akan mengeluarkan sekret cairan kental alkali. b) Jejunum Jejunum segmen yang tengah, kira- kira panjang 2,5 m dan bergabung dengan ileum. Di dalam usus ini, makanan mengalami pencernaan secara kimiawi oleh enzim yang dihasilkan dinding usus. Getah usus yang dihasilkan mengandung lendir dan berbagai macam enzim yang dapat memecah makanan menjadi lebih sederhana. Di dalam jejunum, makanan menjadi bubur yang lumat yang encer. c) Ileum Ileum panjangnya kira-kira 3,5 m (12ft) yang bertemu dengan usus besar pada ileocecal valve, sebagai pintu masuk kedalam cecum, katup ini biasanya menutup ketika absorpsi meningkat dan mencegah pergerakan bakteri dari usus besar kedalam usus halus. Disini terjadi penyerapan sari–sari makanan. Permukaan dinding ileum dipenuhi oleh jonjot-jonjot usus/vili. Adanya jonjot usus mengakibatkan permukaan ileum menjadi semakin luas sehingga penyerapan makanan dapat berjalan dengan baik. Dinding jonjot usus halus tertutup sel epithelium yang berfungsi untuk menyerap zat hara. Enzim pada mikrovili menghancurkan makanana menjadi partikel yang cukup kecil untuk diserap. Di dalam setiap jonjot terdapat pembuluh darah halus dan saluran limfa yang menyerap zat hara dari permukaan jonjot. Vena porta mengambil glukosa dan asam amino, sedangkan asam lemak dan gliserol masuk ke sel limfa c. Etiologi Etiologi typoid berasal dari Genus salmonella, yang terbagi menjadi 3 golongan: 1) Salmonella typhosa, salmonella paratyphii A,B (schott mulleri) salmonella paratyphii C (hirsch feldii). 2) Salmonella typhimurium, salmonella choleraesius,salmonella enteriditis. 3) Salmonella yang hanya patogen pada binatang d. Manifestasi Klinis 1) Minggu pertama Demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual muntah, obstipasi, diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, epistaksis 2) Minggu kedua Demam, bradikardi relatif, lidah typhoid ( lidah di tengah,tepi, ujung merah dan tremor) hepatomegali , spleno megali,gangguan kesadaran, e. Patofisiologi f. Potensial Komplikasi 1) Usus : Perdarahan usus,melena, perforasi usus, ileus paralitik, peritonitis. 2) Organ lain : a) Tulang : osteomielitis,periostitis,spondilitis,artitis. b) Ginjal : glomerulonefritis,pielonefritis,perinefritis. c) Darah : anemia hemolitik, trombositopenia, sindrom uremia hemolitik d) Jantung :kegagalan sirkulai perifer (renjatan,sepsis), miokarditis, trombosis, tromboplebitis e) Paru-paru : bronco pneumoni, empiema, pleuritis f) Hepar : kolesistitis, hepatitis. g) Neurologi : meningitis, delirium, polineuritis perifer, sindrom gullain barre, ensepalopati, psikosis. g. Pemeriksaan Diagnostik 1) Pemeriksaan darah tepi :leukopenia,limfositosis, aneosinofilia, anemia dan trobositopenia 2) Pemeriksaan sum – sum tulang: menunjukan gambaran hiperaktif sum- sum tulang 3) Biakan empedu : Terdapat basil salmonella typhosa pada urin dan tinja 4) Pemeriksaan widal 5) Pemeriksaan SGOT, SGPT : sering kali meningkat h. Penatalaksanaan 1) Isolasi, disinfeksi pakaian dan ekskrta 2) Istirahat selama demam hingga dua minggu 3) Diit kalori tinggi,protein tinggi, tidak mengandung banyak serat 4) Kolaborasi pemberian antibiotik kloramfenikol dengan dosis tinggi. 2. Laparatomy a. Pengertian “ A laparatomy is a surgical incision into the abdominal cavity ”. (Health Web Site Advisory Committee http://www.urac.org) “ Exploratory laparatomy, the surgical exploration of the abdomen, is recommended whwn an abdominal desease from an unknown cause needs to be diagnosed, or when there is an injury to the abdomen (caused by a gunshot wound or stab wound, also known as “blunt trauma”) ”. (Health On the Net Foundation http:// www.hon.com) “ A laparatomy is a large incision made into the abdomen ” (Encyclopedia of Surgery http:// www.google.com) Berdasarkan ketiga pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa laparatomy adalah suatu pembedahan pada rongga abdomen yang dilakukan untuk memeriksa nyeri atau trauma pada abdomen. b. Tujuan Prosedur ini dapat di indikasikan pada klien yang mengalami nyeri abdomen yang tidak diketahui penyebabnya atau klien yang mengalami trauma abdomen. Laparatomy eksplorasi digunakan untuk mengetahui sumber nyeri atau akibat trauma dan perbaikan bila diindikasikan. c. Indikasi Indikasi dilakukannya laparotomy diantaranya yaitu : 1) Kanker pada organ abdomen (seperti pada ovarium, kolon, pancreas, atau hati) 2) Peritonitis appendicitis 3) Kolelitiasis, kolesistitis 4) Pankreatitis akut atau kronik 5) Abses retroperitoneal, abdominal, atau pelvis (kantong/benjolan yang infeksi) 6) Divertikulitis (inflamasi kantong usus) 7) Adhesi (perlengketan jaringan pada abdomen) 8) Perforasi usus 9) Kehamilan ektopik (kehamilan di luar uterus) 10) Perdarahan internal 11) Trauma abdomen d. Manifestasi Klinis Manifestasi yang biasa timbul pada pasien post laparatomy diantaranya : 1) Nyeri tekan pada area sekitar insisi pembedahan 2) Dapat terjadi peningkatan respirasi, tekanan darah, dan nadi. 3) Kelemahan 4) Mual, muntah, anoreksia 5) Konstipasi e. Komplikasi 1) Perdarahan 2) Infeksi 3) Kerusakan organ internal 4) Adhesi organ visceral B. Konsep Keperawatan “ Proses keperawatan adalah proses yang terdiri dari lima tahap, yaitu pengkajian keperawatan, identifikasi / analisa masalah ( diagnosa keperawatan ), perencanaan, implementasi, dan evaluasi ”. ( Marilynn E. Doenges, ect, 1999 : 2 ) Lima tahapan proses keperawatan tersebut, yaitu : 1) Pengkajian Keperawatan Pengkajian merupakan tahap pertama dari proses keperawatan, dimana data-data dasar klien dikumpulkan. (Marilynn E. Doenges, ect, 1999 : 14) Data dasar klien adalah kombinasi data yang dikumpulkan dari wawancara untuk pengambilan riwayat kesehatan klien ( metode mendapatkan informasi subjektif dengan berbicara pada klien dan / atau orang terdekat dan mendengarkan respon mereka ) ; pemeriksaan fisik ( mendapatkan informasi objektif dengan menggunakan tangan ) ; dan data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium/diagnostik. Pengkajian keperawatan pada klien post laparatomy meliputi : a) Biodata (1) Identitas Klien Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor register, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa medis, tindakan medis. (2) Identitas Penanggungjawab Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, hubungan dengan klien, sumber biaya. b) Lingkup Masalah Keperawatan Keluhan utama : klien dengan post laparatomy ditemukan adanya keluhan nyeri pada luka post operasi, mual, muntah, distensi abdomen, badan terasa lemas. c) Riwayat Kesehatan (1) Riwayat Kesehatan Sekarang Riwayat kesehatan sekarang ditemukan pada saat pengkajian yang dijabarkan dari keluhan utama dengan menggunakan teknik PQRST, yaitu : (a) P (Provokatif atau Paliatif), hal-hal yang dapat mengurangi atau memperberat. Biasanya klien mengeluh nyeri pada daerah luka post operasi. Nyeri bertambah bila klien bergerak atau batuk dan nyeri berkurang bila klien tidak banyak bergerak atau beristirahat dan setelah diberi obat. (b) Q (Quality dan Quantity), yaitu bagaimana gejala dirasakan nampak atau terdengar, den sejauh mana klien merasakan keluhan utamanya. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan skala ≥ 5 (0-10) dan biasanya membuat klien kesulitan untuk beraktivitas. (c) R (Regional/area radiasi), yaitu dimana terasa gejala, apakah menyebar? Nyeri dirasakan di area luka post operasi, dapat menjalar ke seluruh daerah abdomen. (d) S (Severity), yaitu identitas dari keluhan utama apakah sampai mengganggu aktivitas atau tidak. Biasanya aktivitas klien terganggu karena kelemahan dan keterbatasan gerak akibat nyeri luka post operasi. (e) T (Timing), yaitu kapan mulai munculnya serangan nyeri dan berapa lama nyeri itu hilang selama periode akut. Nyeri dapat hilang timbul maupun menetap sepanjang hari. (2) Riwayat Kesehatan Dahulu Kaji apakah klien pernah menderita penyakit sebelumnya dan kapan terjadi. Biasanya klien memiliki riwayat penyakit gastrointestinal. (3) Riwayat kesehatan Keluarga Kaji apakah ada anggota keluarga yang memiliki penyakit serupa dengan klien, penyakit turunan maupun penyakit kronis. Mungkin ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit gastrointestinal. d) Riwayat Psikologi Biasanya klien mengalami perubahan emosi sebagai dampak dari tindakan pembedahan seperti cemas. e) Riwayat Sosial Kaji hubungan klien dengan keluarga, klien lain, dan tenaga kesehatan. Biasanya klien tetap dapat berhubungan baik dengan lingkungan sekitar. f) Riwayat Spiritual Pandangan klien terhadap penyakitnya, dorongan semangat dan keyakinan klien akan kesembuhannya dan secara umum klien berdoa untuk kesembuhannya. Biasanya aktivitas ibadah klien terganggu karena keterbatasan aktivitas akibat kelemahan dan nyeri luka post operasi. g) Kebiasaan Sehari-hari Perbandingan kebiasaan di rumah dan di rumah sakit, apakah terjadi gangguan atau tidak. Kebiasaan sehari-hari yang perlu dikaji meliputi : makan, minum, eliminasi Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK), istirahat tidur, personal hygiene, dan ketergantungan. Biasanya klien kesulitan melakukan aktivitas, seperti makan dan minum mengalami penurunan, istirahat tidur sering terganggu, BAB dan BAK mengalami penurunan, personal hygiene kurang terpenuhi. h) Pemeriksaan Fisik (1) Keadaan Umum Kesadaran dapat compos mentis sampai koma tergantung beratnya kondisi penyakit yang dialami, tanda- tanda vital biasanya normal kecuali bila ada komplikasi lebih lanjut, badan tampak lemas. (2) Sistem Pernapasan Terjadi perubahan pola dan frekuensi pernapasan menjadi lebih cepat akibat nyeri, penurunan ekspansi paru. (3) Sistem Kardiovaskuler Mungkin ditemukan adanya perdarahan sampai syok, tanda-tanda kelemahan, kelelahan yang ditandai dengan pucat, mukosa bibir kering dan pecah-pecah, tekanan darah dan nadi meningkat. (4) Sistem Pencernaan Mungkin ditemukan adanya mual, muntah, perut kembung, penurunan bising usus karena puasa, penurunan berat badan, dan konstipasi. (5) Sistem Perkemihan Jumlah output urin sedikit karena kehilangan cairan tubuh saat operasi atau karena adanya muntah. Biasanya terpasang kateter. (6) Sistem Persarafan Dikaji tingkat kesadaran dengan menggunakan GCS dan dikaji semua fungsi nervus kranialis. Biasanya tidak ada kelainan pada sistem persarafan. (7) Sistem Penglihatan Diperiksa kesimetrisan kedua mata, ada tidaknya sekret/lesi, reflek pupil terhadap cahaya, visus (ketajaman penglihatan). Biasanya tidak ada tanda-tanda penurunan pada sistem penglihatan. (8) Sistem Pendengaran Amati keadaan telinga, kesimetrisan, ada tidaknya sekret/lesi, ada tidaknya nyeri tekan, uji kemampuan pendengaran dengan tes Rinne, Webber, dan Schwabach. Biasanya tidak ada keluhan pada sistem pendengaran. (9) Sistem Muskuloskeletal Biasanya ditemukan kelemahan dan keterbatasan gerak akibat nyeri. (10) Sistem Integumen Adanya luka operasi pada abdomen. Mungkin turgor kulit menurun akibat kurangnya volume cairan. (11) Sistem Endokrin Dikaji riwayat dan gejala-gejala yang berhubungan dengan penyakit endokrin, periksa ada tidaknya pembesaran tiroid dan kelenjar getah bening. Biasanya tidak ada keluhan pada sistem endokrin. i) Data Penunjang Pemeriksaan laboratorium : 1) Elektrolit : dapat ditemukan adanya penurunan kadar elektrolit akibat kehilangan cairan berlebihan 2) Hemoglobin : dapat menurun akibat kehilangan darah 3) Leukosit : dapat meningkat jika terjadi infeksi j) Terapi Biasanya klien post laparotomy mendapatkan terapi analgetik untuk mengurangi nyeri, antibiotik sebagai anti mikroba, dan antiemetik untuk mengurangi rasa mual. 2) Diagnosa Keperawatan . Menurut Judith M. Wilkinson dalam Nursing Diagnosis Handbook (2005) Diagnosa yang muncul pada klien laparotomy ( pembedahan abdomen ) adalah: a) Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan (b.d) ansietas, nyeri, posisi tubuh, penurunan energi atau kelelahan, kelelahan otot-otot respirasi. b) Ansietas b.d prosedur pembedahan, prosedur pra operasi, prosedur pasca operasi. c) Risiko aspirasi , faktor risiko b.d penurunan motilitas gastro intestinal, penekanan batuk, reflek muntah akibat anastesi atau analgetik. d) Gangguan citra tubuh b.d pembedahan. e) Ketidakefektifan pola nafas b.d nyeri, imobilitas, dan kondisi pasca anastesi. f) Ketegangan peran pemberi perawatan b.d keparahan penyakit penerima perawatan. g) Konstipasi b.d penurunan aktifitas, penurunan asupan cairan dan serat, kurang privasi, perubahan rutinitas harian, penurunan peristaltik akibat anastesi, dan analgesik narkotik. h) Ketakutan b.d hospitalisasi, ancaman nyata terhadap kesejahteraan diri, hasil prosedur pembedahan, yang tidak dapat diprediksikan, anastesi umum, hasil pembedahan, dan nyeri. i) Kekurangan volume cairan b.d kehilangan darah tidak normal, kehilangan cairan yang tidak normal (muntah), kegagalan mekanisme regulator. j) Risiko infeksi ; faktor risiko b.d statis cairan tubuh, perubahan peristaltik, respon inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukan, insisi pembedahan, dan kateter urin. k) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kehilangan nafsu makan, mual atau muntah, pembatasan diet, peningkatan kebutuhan protein atau vitamin untuk penyembuhan. l) Perubahan membran mukosa mulut b.d nafas melalui mulut dan statis puasa akibat selang nasogastrik. m) Nyeri b.d insisi, distensi abdomen, dan imobilitas. n) Perubahan pola seksualitas atau disfungsi seksual b.d nyeri, transisi yang berkaitan dengan kesehatan, gangguan citra tubuh, perubahan fungsi atau struktur tubuh, reaksi dari pasangan, impotensi fisiologis, atau ketidakadekuatan lubrikasi vagina akibat pembedahan. o) Kerusakan integritas kulit b.d faktor mekanik, hambatan mobilitas fisik akibat nyeri dan jalur penusukan invasif, ekskresi atau sekresi, status gizi buruk, perubahan sensasi. p) Isolasi sosial b.d malu terhadap bau, penampilan, atau alat yang terpasang (misalnya : kantong ostomy), reaksi dari orang lain terhadap penampilan dan bau. q) Perubahan perfusi jaringan (gastro intestinal) b.d interupsi dari aliran arterial, masalah pertukaran, hipervolemia, dan hipovolemia. 3. Perencanaan / Intervensi Keperawatan Rencana tindakan berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul menurut Judith M. Wilkinson dalam Nursing Diagnosis Handbook (2005) adalah sebagai berikut: a. Inefektif bersihan jalan nafas b.d efek anastesi, Kriteria evaluasi : 1) Klien akan mempunyai kepatenan jalan nafas 2) Pengeluaran sekresi efektif 3) Respirasi dan ritme dalam batas normal 4) Fungsi pulmonali dalam batas normal 5) Mampu menyususn rencana untuk perawatan di rumah Intervensi Rasional 1. Manajemen jalan nafas : fasilitasi kepatenan jalan nafas. 2. Suction : pembuangan sekresi dengan memasukan katetersuction pada jalan nafas pasien dan/atau trachea. 3. Terapi oksigen : pemberian oksigen dan pemantauan efektivitas. 4. Posisi : tempatkan klien pada posisi yang nyaman dan semi fowler. 5. Pantau respirasi : kumpulkan dan analisa data pasien untuk meyakinkan kepatenan jalan nafas dan efektifitas pemberian oksigen. 1. Kepatenan jalan nafas mengindikasikan efektivitas respirasi. 2. Pasien yang mengalami penurunan kesadaran beresiko terjadi aspirasi saliva dan pemberian oksigen tambahan diindikasikan dengan jalan nafas yang bersih. 3. Kerusakan otak irreversible bisa terjadi bila periode apneu terjadi lama dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi. 4. Posisi supine meningkatkan resiko obstruksi jalan nafas oleh lidah, bila dimiringkan maka klien akan mengalami aspirasi. Semi fowler adalah pilihan yang tepat untuk kenyamanan, pengembangan ekspansi paru yang optimal, menghindari aspirasi. 5. Bunyi nafas abnormal ( crackles, gurgles) indikasi utama terjadinya komplikasi hipoventilasi. Peningkatan frekuensi nafas, takipneu, sianosis atau kelemahan indikasi hipovolemia. Deteksi dini dan pelaporan segera menunjang penanganan secara cepat. b. Ansietas b.d prosedur pembedahan, prosedur preoperative. Criteria evaluasi : 1) Klien akan menunjukan kemampuan focus pada pengetahuan baru dan skill 2) Identifikasi gejala sebagai indicator kecemasan sendiri 3) Tidak menunjukan prilaku agresiv 4) Berkomunikasi dan penanganan perasaan negative dengan tepat 5) Rileks dan nyaman dalam beraktivitas Intervensi Rasional 1. Monitor klien tanda dan gejala insietas saat pengkajian keperawatan 2. Fokuskan diskusi pada stressor yang mempengaruhi kondisi pasien 3. Diskusikan persepsi klien akan prosedur pembedahan, ketakutan yang berhubungan dengan operasi 4. Berikan informasi prosedur sebelum operasi, penyakit klien, dan persiapan operasi. 1. Pengkajian seksama kondisi pasien dengan ansietas memungkinkan perawat membuat priorotas perawatan. 2. Focus diskusi memfasilitasi kemampuan pasien untuk menyatakan ketakutan dan perasaan yang dirasakan dan membengun hubungan terapeutik. 3. Diskusi akan persepsi dan ketakutan membuat pasien mengekspresikan diri sendiri dan mengeksplore pengetahuannya. 4. Tindakan untuk menambah pengetahuan dan reduksi ansietas. c. Resiko terhadap infeksi b.d penurunan motilitas dan penekanan reflek batuk dan menelan. Criteria evaluasi : 1) Temperature/suhu normal ( 360C – 370C ) 2) WBC dalam keadaan normal 3) Tidak menunjukan tanda-tanda infeksi : nyeri, kemerahan, peningkatan suhu, bengkak, terganggunya fungsi Intervensi Rasional 1. Berikan antibiotik sesuai indikasi. Biasanya langsung sebelum pembedahan dimulai 2. Kaji infeksi pernafasan : - Auskultasi paru-paru setiap 2 jam dan identifikasi bunyi nafas normal - Kaji sputum, warna, konsistensi, jumlah. - Observasi peningkatan temperatur dan WBC 3. Observasi luka pembedahan setiap hari untuk tanda2 dan gejala infeksi seperti kemerahan, edema, nyeri, drainage, peningkatan suhu. Juga observasi tanda2 infeksi sistemik antara lain demam, lemah, leukositisis atau takikardi 4. Monitor tanda2 peritonitis pada klien, seperti peningkatan temperatur, nyeri, hebat, mual dan muntah, positif kernig’s dan brudzinski’s, potopobia, iritabilitas. Barengi dengan CT scan dan fungsi lumbal. 1. Infeksi luka terjadi 0,7-5,7 % dalam bedah saraf. 2. Proses pembedahan dapat mendorong terjadinya atelektasis dam hipoksia. Dehidrasi menyebabkan sputum kering sehingga peningkatan pnemonia 3. Kulit kpala nekrosis, wound dehiscence, kebocoran CSF, ketidaklancaran drain, terjadinya gatal-gatal dan perubahan pada klien dan faktor lingkungan meningkatkan resiko infeksi pada luka pasien poscraniotomi. 4. Klien yang beresiko terjadinya akut inflamatori meningitis dalam otak atau spinal cord yaitu luka kranial atau spinal yang infeksi d. Gangguan body image b.d pembedahan, situasi krisis : Criteria hasil : 1) Klien akan dapat mengidentifikasikan kekuatan personal 2) Mengetahui situasi dan hubungan personal dan gaya hidup 3) Mempertahankan interaksi social dan hubungan personal 4) Pengetahuan actual dalam perubahan anggota tubuh Intervensi Rasional 1. Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan non verbal mengenai tubuhnya. 2. Bantu klien untuk adaptasi mempersepsikan stressor, perubahan, atau menangani bila ada konflik antara peran dan gaya hidup. 3. Siapkan klien untuk antisipasi krisis perkembangan atau situasi. 4. Dorong persepsi dan tingkah laku positif terhadap tubuh 1. Klien mungkin takut atau salah paham akan efek pembedahan maka diperlukan klarifikasi mengenai apa yang dikeluhkan pasien. 2. Tindakan untuk memperbaiki koping dan menolong klien menjadi tahu perubahan bodi image sementara akibat pembedahan. 3. Intervensi spesifik untuk meminimalisir perubahan bodi image yang dapat membuat klien merasakan ketidaksadaran akan dirinya. 4. Tindakan memberi stimulasi dan koping adaptif dalam menghadapi perubahan anggota tubuh. e. Inefektif pola nafas b.d nyeri, immobilisasi. Criteria hasil : 1) Memiliki pola nafas dan frekuensi dalam batas normal 2) Kepatenan jalan nafas adekuat 3) Status tanda-tanda vital dalam batas normal. Intervensi Rasional 1. Fasilitasi kepatenan jalan nafas 2. Kaji pucat dan sianosis 3. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan 4. Auskultasi suara nafas, ada/tidaknya bunyi nafas tambahan 5. Posisikan klien dengan semi fowler 6. Suction sesuai kebutuhan 1. Kepatenan jalan nafas mengindikasikan efektivitas respirasi. 2. Hipoksia dapat diindikasikan dengan adanya pucat dan sianosis 3. Hipoventilasi berhubungan dengan penekanan diafragma menurunkan tekanan arterial oksigen secara parsial. 4. Crackels mengindikasikan komplikasi sistem pernafasan. 5. Posisi supine meningkatkan resiko obstruksi jalan nafas oleh lidah, bila dimiringkan maka pasien akan mengalami aspirasi. Semi fowler adalah pilihan yang tepat untuk kenyamanan, pengembangan ekspansi paru yang optimal, menghindari aspirasi. 6. Sekresi mempengaruhi efektifitas pola nafas sehingga diperlukan penghisapan untuk memberikan kebersihan jalan nafas. f. Resiko konstipasi b.d penurunan aktifitas, penurunan intake cairan dan serat, penurunan peristaltic akibat anastesi. Criteria evaluasi : 1) Menggambarkan perbaikan diet (cairan dan serat) yang tepat untuk mempertahankan pola BAB seperti biasa. 2) Menunjukan hidrasi adekuat (turgor kulit baik, intake cairan sesuai dengan output) 3) Melaporkan saat BAB tidak nyeri dan kesulitan dalam mengejan. Intervensi Rasional 1. Dokumentasikan pola bab, aktifitas dan medikasi. 2. Kaji dan dokumentasikan post operatif : - warna dan konsistensi BAB - flatus - ada atau tidaknya bising usus dan distensi abdomen. 3. Informasikan pada klien kemungkinan pemberian obat untuk mengatasi konstipasi 4. Jelaskan efek cairan dan serat untuk pencegahan konstipasi. 5. Berikan privasi dan keamanan bagi klien pada saat BAB. 1. Indicator kembalinya fungsi gastrointestinal, mengidentifikasi ketepatan intervensi. 2. Pendidikan kesehatan dalam penjelasan prosedur pemberian tindakan 3. Tindakan motivasi untuk melakukan konsumsi cairan dan serat untuk 4. Meningkatkan konsistensi feses dan pengeluaran feses. 5. Penjagaan privasi memberikan kenyamanan dalam BAB g. Ketakutan b.d stressor lingkungan atau hospitalisasi, hasil pembedahan, efek anastesi. Kriteria evaluasi : Pasien akan menunjukan kontrol ketakutan dengan sarana sebagai berikut : 1) Informasi adekuat untuk mengurangi ketakutan. 2) Hindari penyebab takut 3) Gunakan teknik relaksasi 4) Pertahankan peran sosial dan hubungan personal 5) Menjadi produktif. Intervensi Rasional 1. Kaji secara subjektif dan objektif mengenai respon ketakutan 2. Informasikan kepada klien mengenai penyakit, proses perjalanan penyakit, komplikasi dan penanganan. 3. Sediakan perawatan segera, jelaskan intervensi untuk klien dengan bentuk singkat 4. Manajemen lingkungan dengan menjaga stabilitas lingkungan, keamanan dan kenyamanan. 5. Dorong verbalisasi mengenai perasaan akan perubahan status kesehatan. 6. Kolaborasi pemberian sedatif sesuai indikasi 1. Keadaan yang ada pada pasien dengan ketakutan dapat mengakibatkan isolasi diri. 2. Wawasan tambahan bagi keluarga dan klien sehingga dapat berpartisipasi dalam penanganan pemulihan pasien. 3. Penanganan segera menurunkan resiko isolasi sosial dan informasi prosedur perawatan membantu untuk mengatasi ketakutan. 4. Stabilitas lingkungan menunjang menurunkan stressor lingkungan 5. Tindakan motivasi pengungkapan perasaan sebagai indikator hubungan terapeutik 6. Penggunaan agen pharmacologi untuk meningkatkan istirahat dan mengurangi ansieas h. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan darah, kehilangan air dengan abnormal. Criteria hasil : 1) Menunjukan level elektrolit, BUN, hematokrit dan serum osmolalitas dalam keadaan normal. 2) Urine output dalam batas normal 3) Hasil hemodinamika dalam batas normal Intervensi Rasional 1. Monitor dan perbaiki intake output, antara setiap jam dan perbandingkan. Ukur dan dokumentasikan output urine setiap 1-4 jam. Laporkan sebagai berikut : - urine output lebih dari 200ml/jam selama 2 jam - urine output kurang dari 30ml/jam selama 2 jam 2. Monitor hasil laboratorium sesuai indikasi. Laporkan sebagai berikut : - osmolalitas urine, kurang dari 200mOsm/kg - osmolalitas serum, lebih dari 300 mOsm/kg - serum sodium, lebih dari 145 mEq/L - peningkatan level BUN dan hematokrit 3. Monitor ECG dan tekanan hemodinamika secara periodic. Perhatikan adanya : - Adanya gelombang U, QT memanjang, depresi segmen ST, dan gelombang T memendek. - Tekanan hemodinamika kardiak output rendah 4. Berikan terapi sesuai indikasi, biasanya cairan isotonic dengan penambahan potassium klorida jika serum potassium rendah. Pantau akses IV , antisipasi peningkatan pemberian cairan jika hipertermia atau adanya infeksi. 1. Terapi diuretik, hipertermia, pembatasan intake cairan dapat menimbulkan kekurangan cairan. Pengukuran tiap jam dan perbandingannya dapt mendeteksi kekurangan. - urine output lebih dari 200ml/jam biasanya menunjukan diabetes insipidus. Pasien dengan peningkatan TIK. Diabetes insipidus dihasilkan dari kegagalan gland pituitary dalam mensekresi ADH karena kerusakan hipotalamus. Seperti gangguan karena neurosurgery, tapi hal itu juga dapat terjadi sebagai sekunder dari lesi vaskuler atau trauma kepala berat. - Indikasi adanya deficit volume cairan 2. Hasil laboratorium menambah keadaan objektif dari ketidakseimbangan. Penurunan osmolalitas urine berhubungan dengan diuresis, peningkatan serum osmolalitas, serum sodium dan hematokrit menunjukan hemokonsentrasi. 3. Pemantauan secara periodic menunjang peringatan secepatnya apabila terjadi kondisi yang fatal. - Tanda ECG menunjukan penurunan responsibilitas stimulus sel kardiak, menghasilkan hipokalemia sekunder akibat pengeluaran potassium. - Penurunan tekanan menunjukan hipovolemia dan penurunan kardiak output menunjukan preload insuffisiensi. 4. Cairan isotonic adalah pengganti cairan untuk kehilangan cairan tubuh. Produk darah, koloid, atau albmin, dapat digunakan untuk peningkatan MAP. Monitor digunakan untuk mencegah overload volume cairan. Cairan dengan potassium harus dipantau dengan seksama karena pottasium mengiritasi vena dan infus potassium yang cepat dapat menyebabkan hiperkalemia. Hipertermia dan infeksi terjadi akibat kehilangan cairan karena peningkatan metabolic, peningkatan keringat dan ekskresi cairan melalui pernafasan. i. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d nausea dan vomiting, pembatasan diet. Kriteria hasil : 1) Klien akan menunjukan berat badan normal sesuai kondisi. 2) Status nutrisi : keseimbangan diet intake makanan dan cairan 3) Mempertahankan body mass 4) Memiliki nilai laboratorium dalam batas normal (albumin, transferrin, dan elektrolit) Intervensi Rasional 1. Berikan klien diet tinggi protein, sesuai kebutuhan 2. Monitor hasil laboratorium khususnya transferrin, albumin dan elektrolit 3. Tentukan kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi 4. Dampingi dengan ketetapan keseimbangan deit intake makanan dan cairan 5. Fasilitasi penambahan berat badan 6. Berikan magnesium sulfate sesuai indikasi 1. Diet tinggi protein membantu mamberikan efek cadangan dalam malnutrisi. 2. Pengkajian penunjang yang essensial untuk mengetahui evaluasi status nutrisi klien. 3. Identifikasi bantuan parsial atau total dalam pemenuhan kebutuhan diri/ adl 4. Tindakan pemenuhan keseimbangan nutrisi dengan reguler time/schedule/ jadwal untuk pasien agar pemantauan intake efektif. 5. pengkajian dasar menentukan terpenuhi/ tidak kebutuhan nutrisi. 6. Magnesium sulfate meningkatkan efektifitas thiamine. j. Kerusakan membrane mukosa mulut b.d nasogastrik tube Kriteria evaluasi : 1) Klien akan menunjukan kenyamanan dalam makan dan minum. 2) Integritas kulit dan mukosa membrane (bebas dari lesi jaringan, sensasi normal). 3) Hygiene mulut baik. Intervensi Rasional 1. Identifikasi factor iritasi seperti alcohol, makan, rokok, medikasi, temperature makanan yang terlalu panas. 2. Kaji pemahaman kliien dan kemampuan untuk perawatan mulut. 3. Berikan perawatan mulut setelah makan sesuai kabutuhan. 4. Anjurkan untuk menghindari merokok dan konsumsi alcohol. 1. Iritasi memperberat kerusakan membrane mukosa sehingga control terhadap factor harus dilakuakan 2. Tindakan evaluasi pengetahuan dan aplikasi kebiasaan perawatan mulut 3. Perawatan mulut mereduksi resiko infeksi dengan pertahanan sirkulasi untuk membrane mukosa dan penurunan bakteri mulut. 4. Alcohol, dan nikotin memproduksi plak digigi dan membuat kering serta iritasi mukosa. k. Gangguan nyaman nyeri b.d insisi, distensi abdomen, immobilisasi. Kriteria evaluasi : 1) kliien akan menunjukan teknik relaksasi individu yang efektif dalam mencapai kenyamanan 2) Mempertahankan level nyeri pada skala nyeri yang dapat ditoleransi (skala 0-10) 3) Melaporkan keadaan fisik dan piskis sudah membaik 4) Penggunaan analgesik dan analgesik untuk menghilangkan nyeri 5) Mengakui faktor penyebab sehingga dapat menggunakan pengukuran untuk mencegah nyeri akibat Intervensi Rasional 1. Pemberian anlgesik sesuai indikasi 2. Kaji skala nyeri atau ketidaknyamanan dengan skala 0 – 10. 3. Ajarkan teknik manajemen nyeri : nafas dalam, guide imagery, relaksasi, visualisasi dan aktivitas terapeutik. 4. Kaji secara komprehensif kondisi nyeri termasuk lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kuantitas atau kualitas nyeri, dan faktor presipitasi/pencetus. 5. Observasi secara verbal atau nonverbal ketidaknyamanan. 6. Instruksikan klien untuk melaporkan nyeri bila sangat hebat. 7. Informasikan klien prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan koping adaptif. 1. Agen farmakologik untuk menurunkan/ menghilangkan nyeri. 2. Analisa secara seksama karekteristik nyeri membatu diffirensial diagnosis nyeri. Standarisasi skala nyeri menunjang keakuratan. 3. Manajemen pengalihan fokus perhatian nyeri. Pendidikan pada pasien untuk mengurangi nyeri, setiap orang memiliki perbedaan derajat nyeri yang dirasakan. 4. Laporan klien merupakan indikator terpercaya mengenai eksistensi dan intensitas nyeri pada klien dewasa. Baru atau peningkatan nyeri memerlukan medikal evaluasi segera. 5. Respon verbal dapat menjadi indikasi adanya dan derajat nyeri yang dirasakan. Respon non verbal menampilkan kondisi nyeri. 6. Partisipasi langsung dalam penanganan dan deteksi dini untuk pengelolaan nyeri secara segera setelah dilaporkan. 7. Tindakan persiapan kondisi klien sebelum prosedur dan membantu klien menetapkan koping sehubungan dengan kebutuhan penanganan stres akibat nyeri. l. Inefektif disfungsi seksual b.d nyeri yang bertransisi, gangguan bodi image. Criteria evaluasi : 1) Klien akan menunjukan kemauan mendiskusikan perubahan fungsi seksual. 2) Meminta informasi yang dibutuhkan tentang perubahan fungsi seksual. Intervensi Rasional 1. Monitor indicator resolusi disfungsi seksual (kapasitas intimasi) 2. Berikan informasi yang tepat untuk mengatasi disfungsi seksual (pasoman antisipasi, materi adukasi, latihan reduksi stress,focus konseling) 3. Diskusikan penyakit, situasi sehat, dan medikasi yang berpengaruh terhadap seksualitas. 4. Bantu klien untuk menyatakan perasaan akan perubahan seksualitas akibat sakitnya. 1. Perubahan status kesahatan / hospitalisasi berpengaruh pada hubungan seksualitas, menggali factor penyebab disfungsi. 2. Informasi actual merubah persepsi dan menurunkan tingkat kecemasan akan perubahan. 3. Evaluasi pengetahuan mengenai penyakit dan pengaruh terhadap hubungan seksualitas pasien. 4. Berbagi perasaan dapat membantu mengatasi pertahanan diri selama proses perubahan yang ahrus dialami. m. Kerusakan integritas kulit b.d insisi pembedahan, perubahan sensasi. Criteria evaluasi: 1) Klien akan menunjukan perwatan optimal kulit dan luka secara rutin 2) Menunjukan intgritas kulit dan membrane mukosa adekuat ( temperature jaringan, elastisitas, hidrasi, pigmentasi, dan warna) Intervensi Rasional 1. Monitor karakteristik luka meliputi lokasi, ada/tidaknya dan karakter eksudat, ada/tidaknya jaringan nekrotik, ada/tidaknya tanda-tanda infeksi (nyeri, bengkak, kemerahan, peningkatan sushu, penurunan fungsi) 2. Bersihkan dan ganti balutan (wound care) luka dengan teknik steril 3. Minimalisir penekanan pada bagian luka 4. Evaluasi factor yang meningkatkan kerusakan kulit seperti, deficit nutrisi, diabetes mellitus, infeksi, penurunan sensasi. 1. Permulaan pengkajian yang merupakan langkah awal utnuk memberikan perawatan individual. Penemuan abnormal dapat menjadi data untuk masalah dan dapat digunakan untuk pedoman perencanaan perawatan 2. Pencegahan komplikasi luka terhadap kontaminasi silang dan membantu penyembuhan luka. 3. Pencegahan kerusakan kulit merupakan salah satu penanganan mudah masalah sebelum kerusakan kulit berkembang 4. klien dengan kondisi post pembedahan beresiko tinggi mengalami komplikasi. Evaluasi segera dapat menjadi ukuran pencegahan dan penanganan dini. n. Inefektif perfusi jaringan (gastrointestinal) b.d interupsi aliran arterial, hipervolemia, hipovolemia. Criteria evaluasi : 1) Klien akan menunjukan intake nutrisi dan cairan adekuat 2) Melaporkan kecukupan energi 3) Eliminasi BAB dalam keadaan normal (warna, jumlah, konsistensi dan pola) 4) Status sirkulasi adekuat (perfusi jaringan perifer adekuat, TD dalam batas normal, tidak terjadi distansi vena juguralis) 5) Menunjukan hidrasi yang normal (tidak terjadi asites dan udema perifer, abnormal haus tidak terjadi, demam tidak ada) Intervensi Rasional 1. Monitor tanda-tanda vital 2. Monitor level serum elektrolit 3. Jaga laporan akuran mengenai intake dan output 4. Kaji tanda-tanda perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit, membrane mukosa, sianosis. 5. Pantau status nutrisi dengan menimbnag berat badan setiap hari. 6. Berikan tambahan cairan dan elektrolit sesuai indikasi Pasang NGT jika diperlukan 1. Peningkatan nadi, respirasi, tekanan darah dan suhu menunjukan hipovolemia sehingga mengakibatkan kekurangan volume cairan 2. Evaluasi keakuratan data untuk perancanaan tindakan keperawatan yang komprehensif 3. Identifikasi status keseimbangan cairan dan elektrolit. Monitor digunakan untuk mencegah overload volume cairan dan kekurangan yang bisa mengakibatkan syok hipovolemik. 4. Tindakan mengontrol keadaan nutrisi untuk mengantisipasi kemungkinan kekurangan energi atau malnutrisi 5. Penggantian cairan dan elektrolit apabila terjadi syok hipivolemik 6. Sarana bagi pasien yang tidak mampu intake nutrisi dari oral
Rabu, 19 Oktober 2011
imunisasi
Imunisasi Polio
Terdapat 2jenis vaksin yang beredar dan yang umum diberikan di Indonesia adalah vaksin sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya adalah melalui mulut. Dibeberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio.
Pemberian Imunisasi Polio
•Dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B dan DPT
Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT
•Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali denga selang waktu kurang dari satu bulan
•Imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah (5-6tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12tahun)
•Diberikan dengan cara meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis
Tujuan
Imunisasi polio digunakan untuk untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit polimielitis.
Kontra indikasi
Imunisasi polio tidak boleh diberikan pada anak yang sedang menderita diare berat.
Efek samping
Efek samping yang mungkin terjadi adalah dapat berupa kejang-kejang, tetapi kemungkinan tersebut sangat kecil untuk terjadi.
Sumber: kesehatanmanusia.blogspot.com
MUNISASI; Pengertian dan Ruang Lingkup
Definisi : Cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu Ag, sehingga bila ia terpapar pada Ag yang serupa, tidak terjadi penyakit.
Sistem Imun Spesifik : Hanya dapat menghancurkan benda asing yang dikenal sebelumnya
HUMORAL :
Peranan dari Limfosit B atau Sel B (Bursa Fabricius) dimana jika Sel B dirangsang ” sel plasma ” zat anti atau anti bodi ” didalam Serum Fungsi : Pertahanan terhadap infeksi virus, bakteri dan menetapkan toksin.
Antibodi :
1. IgG :
– Komponen utama Ig serum (75%)
– Dapat menembus Placenta
– Terbentuk pada respons sekunder
– Anti bakteri, anti virus, anti jamur
2. IgM :
– Imunoglobulin terbesar
– Respons imun primer
– Mencegah gerakan mikroorganisme sekunder
– Mengaktifkan komplemen
3. IgA :
– Terbentuknya pd rangsangan selaput lendir
– Kekebalan infeksi saluran nafas, pencernaan, urogenitalis
– Fiksasi komplemen, antitoxin, reaksi aglutinasi, anti virus
4. IgD :
– Sangat rendah dalam sirkulasi
– Fungsi belum jelas
5. IgE :
– Sangat sedikit jumlahnya
– Tinggi pada alergi, fiksasi komplemen, infeksi cacing, infeksi parasit
SELULER
Peranan dari limfosit T atau sel T dimana Sel T dibentuk di sumsum tulang ” Proliferasi dan diferensiasi terjadi di kelenjar Timus
Fungsi : Pertahanan terhadap bakteri (intraselular), virus, jamur, parasit, keganasan
Terdiri dari
1. Helper T-cell membantu sel B
1. Suppressor T-cell :
– Menghambat sel B
– Menghambat sel T
3. Cytotoxic T-cell : Menyerang antigen secara langsung
Imunisasi Pasif Didapat
Kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh bukan oleh individu itu sendiri, misalnya kekebalan bayi yang diperoleh dari ibu setelah pemberian Ig serum Daya lindung pendek ( 2 – 3 minggu)
• Contoh :
– Gama globulin murni penderita – campak
– ATS, ADS, Anti rabies, Anti – Snake venom
– Profilaksi & terapeutik ( pengobatan )
Reaksi aktopik
Terjadi beberapa menit dimana tubuh mengalami Shock berat, gatal seluruh tubuh, urticaria tempat suntik ” meluas, gelisah, pucat, cyanosis, dyspnoe, kejang ” mati
Therapi : Adrenalin, Corticosteroid
Serum sickness
Masa tunas : 6 – 24 hari
Panas, urticaria, exanthema, muntah, berak, bahaya urticaria (oedem) glottis ” tercekik.
Therapi : Adrenalin, Corticosteroid, Anti Histamin
Pemberian ke II (ulangan)
1. Ana phylactic reaction :
Masa tunas : Beberapa menit – 24 jam
Gejala : Sama reaksi atopik – < ringan 2. Accelerated Reaction : Masa tunas : 1 – 5 hari Gejala : Sama serum sickness " Pemberian serum – test lebih dahulu Test pemberian serum 1. Skin test : 0,1 ml seru 1/10 – intra kutan tunggu 15 menit : " infiltrat > 10 mm
2. Eye test : 1 tetes serum kemudian tunggu 15 menit : + ” mata bengkak merah
Bila skin dan atau eye test positif ” pemberian Serum : Cara Bersedka
- 0,1 ml serum dlm 1 ml air garam fisiologis – Subkutan – tunggu ½ jam reaksi
- 0,5 ml serum dlm 1 ml air garam fisiologis – Subkutan – tunggu ½ jam reaksi
- Sisa serum ” Intra Muskular
Tujuan Imunisasi
• Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang
• Menghilangkan penyakit tertentu pada populasi
Keberhasilan Imunisasi tergantung faktor:
1. Status Imun Penjamu:
• Adanya Ab spesifik pada penjamu ® keberhasilan vaksinasi, mis:
– campak pada bayi
– kolustrum ASI – IgA polio
• Maturasi imunologik: neonatus ® fungsi makrofag¯,kadar komplemen¯, aktifasi optonin¯.
• Pembentukan Ab spesifik terhadap Ag kurang ® hasil vaksinasi ¯ ® ditunda sampai umur 2 bulan.
• Cakupan imunisasi semaksimal mungkin agar anak kebal secara simultan, bayi diimunisasi
• Frekuensi penyakit ¬, dampaknya pada neonatus berat ® imunisasi dapat diberikan pada neonatus.
• Status imunologik ¯ (spt defisiensi imun) ® respon terhadap vaksin kurang.
2. genetik
secara genetik respon imun manusia terhadap Ag tertentu ® baik, cukup, rendah ® keberhasilan vaksinasi tidak 100%
4. kualitas vaksin
a. cara pemberian, misal polio oral ® imunitas lokal dan sistemik
b. Dosis vaksin
– tinggi ® menghambat respon, menimbulkan efek samping
– rendah ® tidak merangsang sel imunokompeten
c. Frekuensi Pemberian
Respon imun sekunder ® Sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, afinitas lebih tinggi. Frekuensi pemberian mempengaruhi respon imun yang terjadi . Bila vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar Ab spesifik masih tinggi ® Ag dinetralkan oleh Ab spesifik ® tidak merangsang sel imunokompeten.
d. Ajuvan : Zat yang meningkatkan respon imun terhadap Ag
• mempertahankan Ag tidak cepat hilang
• Mengaktifkan sel imunokompeten
e. Jenis Vaksin
Vaksin hidup menimbulkan respon imun lebih baik.
Kandungan vaksin
1. Antigen ® virus, bakteri
– vaksin yang dilemahkan: polio, campak, BCG
– vaksin mati : pertusis
– eksotoksin : Toksoid, dipteri, tetanus
1. Ajuvan : persenyawaan aluminium
2. Cairan pelarut : air, cairan garam fisiologis, kultur jaringan, telur.
Hal – hal yang merusak vaksin:
• Panas ® semua vaksin
• Sinar matahari ® BCG
• Pembekuan ® toxoid
• Desinfeksi/antiseptik : sabun
Jadwal Imunisasi
• Untuk keseragaman
• Mendapatkan respon imun yang baik ® Berdasarkan keadaan epidemiologi, prioritas penyebab kematian, kesakitan
IMUNISASI BCG
Vaksin BCG tidak dapat mencegah seseorang terhindar dari infeksi M. tuberculosa 100%, tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut, Berasal dari bakteri hidup yang dilemahkan ( Pasteur Paris 1173 P2), Ditemukan oleh Calmette dan Guerin
• Diberikan sebelum usia 2 bulan Disuntikkan intra kutan di daerah insertio m. deltoid dengan dosis 0,05 ml, sebelah kanan
• Imunisasi ulang tidak perlu, keberhasilan diragukan
Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan 4 cc NaCl 0,9%. Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam, sisanya dibuang. Penyimpanan pada suhu < 5°C terhindar dari sinar matahari (indoor day-light). Cara penyuntikan BCG • Bersihkan lengan dengan kapas air • Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berlubang menghadap keatas. • Suntikan 0,05 ml intra kutan – merasakan tahan – benjolan kulit yang pucat dengan pori- pori yang khas diameter 4-6 mm Kenapa suntikan intra kutan? • Vaksin BCG ® lapisan chorium kulit sebagai depo ®berkembang biak® reaksi indurasi, eritema, pustula • Setelah cukup berkembang ® sub kutan® kapiler, kelenjar limfe, peredaran darah Bayi kulitnya tipis®intra kutan sulit ® sering suntikan terlalu dalam (sub kutan) Reaksi sesudah imunisasi BCG 1. Reaksi normal ® lokal • 2 minggu ® indurasi, eritema, kemudian menjadi pustula • 3-4 minggu ® pustula pecah menjadi ulkus (tidak perlu pengobatan) • 8-12 minggu ® ulkus menjadi scar diameter 3-7 mm. 2. Reaksi regional pada kelenjar • Merupakan respon seluler pertahanan tubuh • Kadang terjadi ® di kelj axila dan servikal (normal BCG-it is) • Timbul 2-6 bulan sesudah imunisasi • Kelenjar berkonsistensi padat, tidak nyeri, demam (-) • Akan mengecil 1-3 bulan kemudian tanpa pengobatan. Komplikasi 1. Abses di tempat suntikan • Abses bersifat tenang (cold abses) ® tidak perlu terapi • Oleh karena suntikan sub kutan • Abses matang ® aspirasi 2. Limfadenitis supurativa • Oleh karena suntikan sub kutan atau dosis tinggi • Terjadi 2-6 bulan sesudah imunisasi • Terapi tuberkulostatik ® mempercepat pengecilan. Reaksi pada yang pernah tertular TBC: • Koch Phenomenon ® reaksi lokal berjalan cepat (2-3 hari sesudah imunisasi) ® 4-6 minggu timbul scar. • Imunisasi bayi > 2 bulan ® tes tuberkulin (Mantoux)
• Untuk menunjukkan apakah pernah kontak dengan TBC
• Menyuntikkan 0,1 ml PPD di daerah flexor lengan bawah secara intra kutan
• Pembacaan dilakukan setelah 48 – 72 jam penyuntikan
• Diukur besarnya diameter indurasi di tempat suntikan.
• < 5 mm : negatif • 6-9 mm : meragukan • ³ 10 mm : positif Tes Mantoux (-)®imunisasi(+) Kontraindikasi • Respon imunologik terganggu : infeksi HIV, def imun kongenital, leukemia, keganasan • Respon imunologik tertekan: kortikosteroid, obat kanker, radiasi • Hamil IMUNISASI HEPATITIS B • Vaksin berisi HBsAg murni • Diberikan sedini mungkin setelah lahir • Suntikan secara Intra Muskular di daerah deltoid, dosis 0,5 ml. • Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C • Bayi lahir dari ibu HBsAg (+) diberikan imunoglobulin hepatitis B 12 jam setelah lahir + imunisasi Hepatitis B • Dosis kedua 1 bulan berikutnya • Dosis ketiga 5 bulan berikutnya (usia 6 bulan) • Imunisasi ulangan 5 tahun kemudian • Kadar pencegahan anti HBsAg > 10mg/ml
• Produksi vaksin Hepatitis B di Indonesia, mulai program imunisasi pada tahun 1997
Efek samping
• Demam ringan
• Perasaan tidak enak pada pencernaan
• Rekasi nyeri pada tempat suntikan
Tidak ada kontraindikasi
IMUNISASI POLIO
• Vaksin dari virus polio (tipe 1,2 dan 3) yang dilemahkan, dibuat dlm biakan sel-vero : asam amino, antibiotik, calf serum dalam magnesium klorida dan fenol merah
• Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.
• Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml)
• Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 minggu
• Imunisasi ulangan, 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI
• Anak diare ® gangguan penyerapan vaksin.
• Ada 2 jenis vaksin
– IPV ® salk
– OPV ® sabin ® IgA lokal
• Penyimpanan pada suhu 2-8°C
• Virus vaksin bertendensi mutasi di kultur jaringan maupun tubuh penerima vaksin
• Beberap virus diekskresi mengalami mutasi balik menjadi virus polio ganas yang neurovirulen
• Paralisis terjadi 1 per 4,4 juta penerima vaksin dan 1 per 15,5 juta kontak dengan penerima vaksin
Kontra indikasi : defisiensi imunologik atau kontak dengannya
IMUNISASI DPT
Terdiri dari
– toxoid difteri ® racun yang dilemahkan
– Bordittela pertusis ® bakteri yang dilemahkan
– toxoid tetanus ® racun yang dilemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat
• Merupakan vaksin cair. Jika didiamkan sedikit berkabut, endapan putih didasarnya
• Diberikan pada bayi > 2 bulan oleh karena reaktogenitas pertusis pada bayi kecil.
• Dosis 0,5 ml secara intra muskular di bagian luar paha.
• Imunisasi dasar 3x, dengan interval 4 minggu.
• Vaksin mengandung Aluminium fosfat, jika diberikan sub kutan menyebabkan iritasi lokal, peradangan dan nekrosis setempat.
Reaksi pasca imunisasi:
• Demam, nyeri pada tempat suntikan 1-2 hari ® diberikan anafilatik + antipiretik
• Bila ada reaksi berlebihan pasca imunisasi ® demam > 40°C, kejang, syok ® imunisasi selanjutnya diganti dengan DT atau DPaT
Kontraindikasi
• Kelainan neurologis n terlambat tumbuh kembang
• Ada riwayat kejang
• Penyakit degeneratif
• Pernah sebelumnya divaksinasi DPT menunjukkan: anafilaksis, ensefalopati, kejang, renjatan, hiperpireksia, tangisan/teriakan hebat.
IMUNISASI CAMPAK
Vaksin dari virus hidup (CAM 70- chick chorioallantonik membrane) yang dilemahkan + kanamisin sulfat dan eritromisin Berbentuk beku kering, dilarutkan dalam 5 cc pelarut aquades.
• Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang diperoleh dari ibu.
• Dosis 0,5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri.
• Disimpan pada suhu 2-8°C, bisa sampai – 20 derajat celsius
• Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8°C
• Jika ada wabah, imunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan, diulang 6 bulan kemudian
Efek samping: demam, diare, konjungtivitis, ruam setelah 7 – 12 hari pasca imunisasi. Kejadian encefalitis lebih jarang
Kontraindikasi:
* infeksi akut dengan demam, defisiensi imunologik, tx imunosupresif, alergi protein telur, hipersensitifitas dng kanamisin dan eritromisin, wanita hamil.
* Anak yang telah diberi transfusi darah atau imunoglobulin ditangguhkan minimal 3 bulan.
* Tuberkulin tes ditangguhkan minimal 2 bulan setelah imunisasi campak
IMUNISASI HIB
• Untuk mencegah infeksi SSP oleh karena Haemofilus influenza tipe B
• Diberikan MULAI umur 2-4 bulan, pada anak > 1 tahun diberikan 1 kali
• Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit.
• Dosis 0,5 ml diberikan IM
• Disimpan pada suhu 2-8°C
• Di Asia belum diberikan secara rutin
• Imunisasi rutin diberikan di negara Eropa, Amerika, Australia.
IMUNISASI MMR
Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari:
– Measles strain moraten (campak)
– Mumps strain Jeryl lynn (parotitis)
– Rubela strain RA (campak jerman)
• Diberikan pada umur 15 bulan. Ulangan umur 12 tahun
• Dosis 0,5 ml secara sub kutan, diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan
imunisasi lain.
Kontra indikasi: wanita hamil, imuno kompromise, kurang 2-3 bulan sebelumnya mendapat transfusi darah atau tx imunoglobulin, reaksi anafilaksis terhadap telur
IMUNISASI TYPHUS
Tersedia 2 jenis vaksin:
– suntikan (typhim) ® >2 tahun
– oral (vivotif) ® > 6 tahun, 3 dosis
• Typhim (Capsular Vi polysaccharide-Typherix) diberikan dengan dosis 0,5 ml secara IM. Ulangan dilakukan setiap 3 tahun.
• Disimpan pada suhu 2-8°C
• Tidak mencegah Salmonella paratyphi A atau B
• Imunitas terjadi dalam waktu 15 hari sampai 3 minggu setelah imunisasi
Reaksi pasca imunisasi: demam, nyeri ringan, kadang ruam kulit dan eritema, indurasi tempat suntikan, daire, muntah.
IMUNISASI VARICELLA
Vaksin varicella (vaRiLrix) berisi virus hidup strain OKA yang dilemahkan. Bisa diberikan pada umur 1 tahun, ulangan umur 12 tahun. Vaksin diberikan secara sub kutan Penyimpanan pada suhu 2-8°C
Kontraindikasi: demam atau infeksi akut, hipersensitifitas terhadap neomisin, kehamilan, tx imunosupresan, keganasan, HIV, TBC belum tx, kelainan darah.
Reaksi imunisasi sangat minimal, kadang terdapat demam dan erupsi papulo-vesikuler.
IMUNISASI HEPATITIS A
Imunisasi diberikan pada daerah kurang terpajan, pada anak umur > 2 tahun. Imunisasi dasar 3x pada bulan ke 0, 1, dan 6 bulan kemudian. Dosis vaksin (Harvix-inactivated virus strain HM 175) 0,5 ml secara IM di daerah deltoid. Reaksi yag terjadi minimal kadang demam, lesu, lelah, mual-muntah dan hialng nafsu makan
VAKSIN COMBO
Gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda, misal DPT + hepatitis B +HiB atau Gabungan beberapa antigen dari galur multipel yg berasal dari organisme penyakit yang sama, misal: OPV
Tujuan pemberian
• Jumlah suntikan kurang
• Jumlah kunjungan kurang
• Lebih praktis, compliance dan cakupan naik
• Penambahan program imunisasi baru mudah
• Imunisasi terlambat mudah dikejar
• Biaya lebih murah
Daya proteksi
Titer antibodi salah satu antigen lebih rendah namun masih diatas ambang protektif. Efektivitasnya sama di berbagai jadwal imunisasi. Bisa terjadi kemampuan membuat antibodi utk mengikat antigen berkurang. Dapat terjadi respon imun antigen kedua berubah. Reaktogenitas yang ditentukan terutama oleh ajuvan tidak berbeda jauh. Nyeri berat lebih sering terjadi pada vaksin kombo (Bogaerts, Belgia). Cakupan imunisasi menjadi lebih tinggi. KIPI pada dosis vaksin ekstra tidak bertambah
COLD CHAIN (RANTAI DINGIN)
• Vaksin harus disimpan dalam keadaan dingin mulai dari pabrik sampai ke sasaran.
• Simpan vaksin di lemari es pada suhu yang tepat
• Pintu lemari es harus selalu tertutup dan terkkunsi
• Simpan termometer untuk memonitor lemari es.
• Taruh vaksin Polio, Campak, pada rak I dekat freezer.
Terdapat 2jenis vaksin yang beredar dan yang umum diberikan di Indonesia adalah vaksin sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya adalah melalui mulut. Dibeberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio.
Pemberian Imunisasi Polio
•Dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B dan DPT
Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT
•Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali denga selang waktu kurang dari satu bulan
•Imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah (5-6tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12tahun)
•Diberikan dengan cara meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis
Tujuan
Imunisasi polio digunakan untuk untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit polimielitis.
Kontra indikasi
Imunisasi polio tidak boleh diberikan pada anak yang sedang menderita diare berat.
Efek samping
Efek samping yang mungkin terjadi adalah dapat berupa kejang-kejang, tetapi kemungkinan tersebut sangat kecil untuk terjadi.
Sumber: kesehatanmanusia.blogspot.com
MUNISASI; Pengertian dan Ruang Lingkup
Definisi : Cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu Ag, sehingga bila ia terpapar pada Ag yang serupa, tidak terjadi penyakit.
Sistem Imun Spesifik : Hanya dapat menghancurkan benda asing yang dikenal sebelumnya
HUMORAL :
Peranan dari Limfosit B atau Sel B (Bursa Fabricius) dimana jika Sel B dirangsang ” sel plasma ” zat anti atau anti bodi ” didalam Serum Fungsi : Pertahanan terhadap infeksi virus, bakteri dan menetapkan toksin.
Antibodi :
1. IgG :
– Komponen utama Ig serum (75%)
– Dapat menembus Placenta
– Terbentuk pada respons sekunder
– Anti bakteri, anti virus, anti jamur
2. IgM :
– Imunoglobulin terbesar
– Respons imun primer
– Mencegah gerakan mikroorganisme sekunder
– Mengaktifkan komplemen
3. IgA :
– Terbentuknya pd rangsangan selaput lendir
– Kekebalan infeksi saluran nafas, pencernaan, urogenitalis
– Fiksasi komplemen, antitoxin, reaksi aglutinasi, anti virus
4. IgD :
– Sangat rendah dalam sirkulasi
– Fungsi belum jelas
5. IgE :
– Sangat sedikit jumlahnya
– Tinggi pada alergi, fiksasi komplemen, infeksi cacing, infeksi parasit
SELULER
Peranan dari limfosit T atau sel T dimana Sel T dibentuk di sumsum tulang ” Proliferasi dan diferensiasi terjadi di kelenjar Timus
Fungsi : Pertahanan terhadap bakteri (intraselular), virus, jamur, parasit, keganasan
Terdiri dari
1. Helper T-cell membantu sel B
1. Suppressor T-cell :
– Menghambat sel B
– Menghambat sel T
3. Cytotoxic T-cell : Menyerang antigen secara langsung
Imunisasi Pasif Didapat
Kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh bukan oleh individu itu sendiri, misalnya kekebalan bayi yang diperoleh dari ibu setelah pemberian Ig serum Daya lindung pendek ( 2 – 3 minggu)
• Contoh :
– Gama globulin murni penderita – campak
– ATS, ADS, Anti rabies, Anti – Snake venom
– Profilaksi & terapeutik ( pengobatan )
Reaksi aktopik
Terjadi beberapa menit dimana tubuh mengalami Shock berat, gatal seluruh tubuh, urticaria tempat suntik ” meluas, gelisah, pucat, cyanosis, dyspnoe, kejang ” mati
Therapi : Adrenalin, Corticosteroid
Serum sickness
Masa tunas : 6 – 24 hari
Panas, urticaria, exanthema, muntah, berak, bahaya urticaria (oedem) glottis ” tercekik.
Therapi : Adrenalin, Corticosteroid, Anti Histamin
Pemberian ke II (ulangan)
1. Ana phylactic reaction :
Masa tunas : Beberapa menit – 24 jam
Gejala : Sama reaksi atopik – < ringan 2. Accelerated Reaction : Masa tunas : 1 – 5 hari Gejala : Sama serum sickness " Pemberian serum – test lebih dahulu Test pemberian serum 1. Skin test : 0,1 ml seru 1/10 – intra kutan tunggu 15 menit : " infiltrat > 10 mm
2. Eye test : 1 tetes serum kemudian tunggu 15 menit : + ” mata bengkak merah
Bila skin dan atau eye test positif ” pemberian Serum : Cara Bersedka
- 0,1 ml serum dlm 1 ml air garam fisiologis – Subkutan – tunggu ½ jam reaksi
- 0,5 ml serum dlm 1 ml air garam fisiologis – Subkutan – tunggu ½ jam reaksi
- Sisa serum ” Intra Muskular
Tujuan Imunisasi
• Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang
• Menghilangkan penyakit tertentu pada populasi
Keberhasilan Imunisasi tergantung faktor:
1. Status Imun Penjamu:
• Adanya Ab spesifik pada penjamu ® keberhasilan vaksinasi, mis:
– campak pada bayi
– kolustrum ASI – IgA polio
• Maturasi imunologik: neonatus ® fungsi makrofag¯,kadar komplemen¯, aktifasi optonin¯.
• Pembentukan Ab spesifik terhadap Ag kurang ® hasil vaksinasi ¯ ® ditunda sampai umur 2 bulan.
• Cakupan imunisasi semaksimal mungkin agar anak kebal secara simultan, bayi diimunisasi
• Frekuensi penyakit ¬, dampaknya pada neonatus berat ® imunisasi dapat diberikan pada neonatus.
• Status imunologik ¯ (spt defisiensi imun) ® respon terhadap vaksin kurang.
2. genetik
secara genetik respon imun manusia terhadap Ag tertentu ® baik, cukup, rendah ® keberhasilan vaksinasi tidak 100%
4. kualitas vaksin
a. cara pemberian, misal polio oral ® imunitas lokal dan sistemik
b. Dosis vaksin
– tinggi ® menghambat respon, menimbulkan efek samping
– rendah ® tidak merangsang sel imunokompeten
c. Frekuensi Pemberian
Respon imun sekunder ® Sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, afinitas lebih tinggi. Frekuensi pemberian mempengaruhi respon imun yang terjadi . Bila vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar Ab spesifik masih tinggi ® Ag dinetralkan oleh Ab spesifik ® tidak merangsang sel imunokompeten.
d. Ajuvan : Zat yang meningkatkan respon imun terhadap Ag
• mempertahankan Ag tidak cepat hilang
• Mengaktifkan sel imunokompeten
e. Jenis Vaksin
Vaksin hidup menimbulkan respon imun lebih baik.
Kandungan vaksin
1. Antigen ® virus, bakteri
– vaksin yang dilemahkan: polio, campak, BCG
– vaksin mati : pertusis
– eksotoksin : Toksoid, dipteri, tetanus
1. Ajuvan : persenyawaan aluminium
2. Cairan pelarut : air, cairan garam fisiologis, kultur jaringan, telur.
Hal – hal yang merusak vaksin:
• Panas ® semua vaksin
• Sinar matahari ® BCG
• Pembekuan ® toxoid
• Desinfeksi/antiseptik : sabun
Jadwal Imunisasi
• Untuk keseragaman
• Mendapatkan respon imun yang baik ® Berdasarkan keadaan epidemiologi, prioritas penyebab kematian, kesakitan
IMUNISASI BCG
Vaksin BCG tidak dapat mencegah seseorang terhindar dari infeksi M. tuberculosa 100%, tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut, Berasal dari bakteri hidup yang dilemahkan ( Pasteur Paris 1173 P2), Ditemukan oleh Calmette dan Guerin
• Diberikan sebelum usia 2 bulan Disuntikkan intra kutan di daerah insertio m. deltoid dengan dosis 0,05 ml, sebelah kanan
• Imunisasi ulang tidak perlu, keberhasilan diragukan
Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan 4 cc NaCl 0,9%. Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam, sisanya dibuang. Penyimpanan pada suhu < 5°C terhindar dari sinar matahari (indoor day-light). Cara penyuntikan BCG • Bersihkan lengan dengan kapas air • Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berlubang menghadap keatas. • Suntikan 0,05 ml intra kutan – merasakan tahan – benjolan kulit yang pucat dengan pori- pori yang khas diameter 4-6 mm Kenapa suntikan intra kutan? • Vaksin BCG ® lapisan chorium kulit sebagai depo ®berkembang biak® reaksi indurasi, eritema, pustula • Setelah cukup berkembang ® sub kutan® kapiler, kelenjar limfe, peredaran darah Bayi kulitnya tipis®intra kutan sulit ® sering suntikan terlalu dalam (sub kutan) Reaksi sesudah imunisasi BCG 1. Reaksi normal ® lokal • 2 minggu ® indurasi, eritema, kemudian menjadi pustula • 3-4 minggu ® pustula pecah menjadi ulkus (tidak perlu pengobatan) • 8-12 minggu ® ulkus menjadi scar diameter 3-7 mm. 2. Reaksi regional pada kelenjar • Merupakan respon seluler pertahanan tubuh • Kadang terjadi ® di kelj axila dan servikal (normal BCG-it is) • Timbul 2-6 bulan sesudah imunisasi • Kelenjar berkonsistensi padat, tidak nyeri, demam (-) • Akan mengecil 1-3 bulan kemudian tanpa pengobatan. Komplikasi 1. Abses di tempat suntikan • Abses bersifat tenang (cold abses) ® tidak perlu terapi • Oleh karena suntikan sub kutan • Abses matang ® aspirasi 2. Limfadenitis supurativa • Oleh karena suntikan sub kutan atau dosis tinggi • Terjadi 2-6 bulan sesudah imunisasi • Terapi tuberkulostatik ® mempercepat pengecilan. Reaksi pada yang pernah tertular TBC: • Koch Phenomenon ® reaksi lokal berjalan cepat (2-3 hari sesudah imunisasi) ® 4-6 minggu timbul scar. • Imunisasi bayi > 2 bulan ® tes tuberkulin (Mantoux)
• Untuk menunjukkan apakah pernah kontak dengan TBC
• Menyuntikkan 0,1 ml PPD di daerah flexor lengan bawah secara intra kutan
• Pembacaan dilakukan setelah 48 – 72 jam penyuntikan
• Diukur besarnya diameter indurasi di tempat suntikan.
• < 5 mm : negatif • 6-9 mm : meragukan • ³ 10 mm : positif Tes Mantoux (-)®imunisasi(+) Kontraindikasi • Respon imunologik terganggu : infeksi HIV, def imun kongenital, leukemia, keganasan • Respon imunologik tertekan: kortikosteroid, obat kanker, radiasi • Hamil IMUNISASI HEPATITIS B • Vaksin berisi HBsAg murni • Diberikan sedini mungkin setelah lahir • Suntikan secara Intra Muskular di daerah deltoid, dosis 0,5 ml. • Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C • Bayi lahir dari ibu HBsAg (+) diberikan imunoglobulin hepatitis B 12 jam setelah lahir + imunisasi Hepatitis B • Dosis kedua 1 bulan berikutnya • Dosis ketiga 5 bulan berikutnya (usia 6 bulan) • Imunisasi ulangan 5 tahun kemudian • Kadar pencegahan anti HBsAg > 10mg/ml
• Produksi vaksin Hepatitis B di Indonesia, mulai program imunisasi pada tahun 1997
Efek samping
• Demam ringan
• Perasaan tidak enak pada pencernaan
• Rekasi nyeri pada tempat suntikan
Tidak ada kontraindikasi
IMUNISASI POLIO
• Vaksin dari virus polio (tipe 1,2 dan 3) yang dilemahkan, dibuat dlm biakan sel-vero : asam amino, antibiotik, calf serum dalam magnesium klorida dan fenol merah
• Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.
• Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml)
• Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 minggu
• Imunisasi ulangan, 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI
• Anak diare ® gangguan penyerapan vaksin.
• Ada 2 jenis vaksin
– IPV ® salk
– OPV ® sabin ® IgA lokal
• Penyimpanan pada suhu 2-8°C
• Virus vaksin bertendensi mutasi di kultur jaringan maupun tubuh penerima vaksin
• Beberap virus diekskresi mengalami mutasi balik menjadi virus polio ganas yang neurovirulen
• Paralisis terjadi 1 per 4,4 juta penerima vaksin dan 1 per 15,5 juta kontak dengan penerima vaksin
Kontra indikasi : defisiensi imunologik atau kontak dengannya
IMUNISASI DPT
Terdiri dari
– toxoid difteri ® racun yang dilemahkan
– Bordittela pertusis ® bakteri yang dilemahkan
– toxoid tetanus ® racun yang dilemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat
• Merupakan vaksin cair. Jika didiamkan sedikit berkabut, endapan putih didasarnya
• Diberikan pada bayi > 2 bulan oleh karena reaktogenitas pertusis pada bayi kecil.
• Dosis 0,5 ml secara intra muskular di bagian luar paha.
• Imunisasi dasar 3x, dengan interval 4 minggu.
• Vaksin mengandung Aluminium fosfat, jika diberikan sub kutan menyebabkan iritasi lokal, peradangan dan nekrosis setempat.
Reaksi pasca imunisasi:
• Demam, nyeri pada tempat suntikan 1-2 hari ® diberikan anafilatik + antipiretik
• Bila ada reaksi berlebihan pasca imunisasi ® demam > 40°C, kejang, syok ® imunisasi selanjutnya diganti dengan DT atau DPaT
Kontraindikasi
• Kelainan neurologis n terlambat tumbuh kembang
• Ada riwayat kejang
• Penyakit degeneratif
• Pernah sebelumnya divaksinasi DPT menunjukkan: anafilaksis, ensefalopati, kejang, renjatan, hiperpireksia, tangisan/teriakan hebat.
IMUNISASI CAMPAK
Vaksin dari virus hidup (CAM 70- chick chorioallantonik membrane) yang dilemahkan + kanamisin sulfat dan eritromisin Berbentuk beku kering, dilarutkan dalam 5 cc pelarut aquades.
• Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang diperoleh dari ibu.
• Dosis 0,5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri.
• Disimpan pada suhu 2-8°C, bisa sampai – 20 derajat celsius
• Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8°C
• Jika ada wabah, imunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan, diulang 6 bulan kemudian
Efek samping: demam, diare, konjungtivitis, ruam setelah 7 – 12 hari pasca imunisasi. Kejadian encefalitis lebih jarang
Kontraindikasi:
* infeksi akut dengan demam, defisiensi imunologik, tx imunosupresif, alergi protein telur, hipersensitifitas dng kanamisin dan eritromisin, wanita hamil.
* Anak yang telah diberi transfusi darah atau imunoglobulin ditangguhkan minimal 3 bulan.
* Tuberkulin tes ditangguhkan minimal 2 bulan setelah imunisasi campak
IMUNISASI HIB
• Untuk mencegah infeksi SSP oleh karena Haemofilus influenza tipe B
• Diberikan MULAI umur 2-4 bulan, pada anak > 1 tahun diberikan 1 kali
• Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit.
• Dosis 0,5 ml diberikan IM
• Disimpan pada suhu 2-8°C
• Di Asia belum diberikan secara rutin
• Imunisasi rutin diberikan di negara Eropa, Amerika, Australia.
IMUNISASI MMR
Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari:
– Measles strain moraten (campak)
– Mumps strain Jeryl lynn (parotitis)
– Rubela strain RA (campak jerman)
• Diberikan pada umur 15 bulan. Ulangan umur 12 tahun
• Dosis 0,5 ml secara sub kutan, diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan
imunisasi lain.
Kontra indikasi: wanita hamil, imuno kompromise, kurang 2-3 bulan sebelumnya mendapat transfusi darah atau tx imunoglobulin, reaksi anafilaksis terhadap telur
IMUNISASI TYPHUS
Tersedia 2 jenis vaksin:
– suntikan (typhim) ® >2 tahun
– oral (vivotif) ® > 6 tahun, 3 dosis
• Typhim (Capsular Vi polysaccharide-Typherix) diberikan dengan dosis 0,5 ml secara IM. Ulangan dilakukan setiap 3 tahun.
• Disimpan pada suhu 2-8°C
• Tidak mencegah Salmonella paratyphi A atau B
• Imunitas terjadi dalam waktu 15 hari sampai 3 minggu setelah imunisasi
Reaksi pasca imunisasi: demam, nyeri ringan, kadang ruam kulit dan eritema, indurasi tempat suntikan, daire, muntah.
IMUNISASI VARICELLA
Vaksin varicella (vaRiLrix) berisi virus hidup strain OKA yang dilemahkan. Bisa diberikan pada umur 1 tahun, ulangan umur 12 tahun. Vaksin diberikan secara sub kutan Penyimpanan pada suhu 2-8°C
Kontraindikasi: demam atau infeksi akut, hipersensitifitas terhadap neomisin, kehamilan, tx imunosupresan, keganasan, HIV, TBC belum tx, kelainan darah.
Reaksi imunisasi sangat minimal, kadang terdapat demam dan erupsi papulo-vesikuler.
IMUNISASI HEPATITIS A
Imunisasi diberikan pada daerah kurang terpajan, pada anak umur > 2 tahun. Imunisasi dasar 3x pada bulan ke 0, 1, dan 6 bulan kemudian. Dosis vaksin (Harvix-inactivated virus strain HM 175) 0,5 ml secara IM di daerah deltoid. Reaksi yag terjadi minimal kadang demam, lesu, lelah, mual-muntah dan hialng nafsu makan
VAKSIN COMBO
Gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda, misal DPT + hepatitis B +HiB atau Gabungan beberapa antigen dari galur multipel yg berasal dari organisme penyakit yang sama, misal: OPV
Tujuan pemberian
• Jumlah suntikan kurang
• Jumlah kunjungan kurang
• Lebih praktis, compliance dan cakupan naik
• Penambahan program imunisasi baru mudah
• Imunisasi terlambat mudah dikejar
• Biaya lebih murah
Daya proteksi
Titer antibodi salah satu antigen lebih rendah namun masih diatas ambang protektif. Efektivitasnya sama di berbagai jadwal imunisasi. Bisa terjadi kemampuan membuat antibodi utk mengikat antigen berkurang. Dapat terjadi respon imun antigen kedua berubah. Reaktogenitas yang ditentukan terutama oleh ajuvan tidak berbeda jauh. Nyeri berat lebih sering terjadi pada vaksin kombo (Bogaerts, Belgia). Cakupan imunisasi menjadi lebih tinggi. KIPI pada dosis vaksin ekstra tidak bertambah
COLD CHAIN (RANTAI DINGIN)
• Vaksin harus disimpan dalam keadaan dingin mulai dari pabrik sampai ke sasaran.
• Simpan vaksin di lemari es pada suhu yang tepat
• Pintu lemari es harus selalu tertutup dan terkkunsi
• Simpan termometer untuk memonitor lemari es.
• Taruh vaksin Polio, Campak, pada rak I dekat freezer.
Minggu, 16 Oktober 2011
ASKEP GADAR
Askep GADAR, CEDERA KEPALA ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN CEDERA KEPALA • Pengertian
Trauma kepala adalah suatu
trauma yang mengenai daerah
kulit kepala, tulang tengkorak
atau otak yang terjadi akibat
injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada
kepala. (Suriadi & Rita Yuliani,
2001)
• Klasifikasi
Klasifikasi trauma kepala
berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG): 1. Minor • SKG 13 – 15
• Dapat terjadi kehilangan
kesadaran atau amnesia tetapi
kurang dari 30 menit.
• Tidak ada kontusio tengkorak,
tidak ada fraktur cerebral, hematoma. 1. Sedang • SKG 9 – 12
• Kehilangan kesadaran dan
atau amnesia lebih dari 30 menit
tetapi kurang dari 24 jam.
• Dapat mengalami fraktur
tengkorak. 1. Berat • SKG 3 – 8
• Kehilangan kesadaran dan
atau terjadi amnesia lebih dari
24 jam.
• Juga meliputi kontusio
serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.
• Etiologi
• Kecelakaan, jatuh, kecelakaan
kendaraan bermotor atau
sepeda, dan mobil.
• Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan
ketergantungan.
• Cedera akibat kekerasan.
• Patofisiologis
Cedera memegang peranan yang
sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi
patofisiologis dari suatu trauma
kepala. Cedera percepatan
(aselerasi) terjadi jika benda
yang sedang bergerak
membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan
benda tumpul, atau karena kena
lemparan benda tumpul. Cedera
perlambatan (deselerasi) adalah
bila kepala membentur objek
yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil
atau tanah. Kedua kekuatan ini
mungkin terjadi secara
bersamaan bila terdapat
gerakan kepala tiba-tiba tanpa
kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah
secara kasar dan cepat.
Kekuatan ini bisa dikombinasi
dengan pengubahan posisi rotasi
pada kepala, yang menyebabkan
trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang
otak.
Cedera primer, yang terjadi
pada waktu benturan, mungkin
karena memar pada permukaan
otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi.
Sebagai akibat, cedera sekunder
dapat terjadi sebagai
kemampuan autoregulasi
serebral dikurangi atau tak ada
pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi
(peningkatan volume darah)
pada area peningkatan
permeabilitas kapiler, serta
vasodilatasi arterial, semua
menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya
peningkatan tekanan
intrakranial (TIK). Beberapa
kondisi yang dapat menyebabkan
cedera otak sekunder meliputi
hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi. Genneralli dan kawan-kawan
memperkenalkan cedera kepala
“fokal” dan “menyebar”
sebagai kategori cedera kepala
berat pada upaya untuk
menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan
dari kerusakan fokal yang
meliputi kontusio serebral dan
hematom intraserebral, serta
kerusakan otak sekunder yang
disebabkan oleh perluasan massa lesi, pergeseran otak atau
hernia. Cedera otak menyebar
dikaitkan dengan kerusakan
yang menyebar secara luas dan
terjadi dalam empat bentuk
yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia,
pembengkakan otak menyebar,
hemoragi kecil multipel pada
seluruh otak. Jenis cedera ini
menyebabkan koma bukan
karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera
menyebar pada hemisfer
serebral, batang otak, atau
dua-duanya. • Manifestasi Klinis
• Hilangnya kesadaran kurang
dari 30 menit atau lebih
• Kebungungan
• Iritabel
• Pucat • Mual dan muntah
• Pusing kepala
• Terdapat hematoma
• Kecemasan
• Sukar untuk dibangunkan
• Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar
dari hidung (rhinorrohea) dan
telinga (otorrhea) bila fraktur
tulang temporal.
• Komplikasi
• Hemorrhagie • Infeksi
• Edema
• Herniasi
• Pemeriksaan Penunjang
• Laboratorium: darah lengkap
(hemoglobin, leukosit, CT, BT) • Rotgen Foto
• CT Scan
• MRI
• Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan
therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai
berikut: 1. Observasi 24 jam 2. Jika pasien masih muntah
sementara dipuasakan terlebih
dahulu. 3. Berikan terapi intravena bila
ada indikasi. 4. Anak diistirahatkan atau tirah
baring. 5. Profilaksis diberikan bila ada
indikasi. 6. Pemberian obat-obat untuk
vaskulasisasi. 7. Pemberian obat-obat analgetik. 8. Pembedahan bila ada indikasi. • Rencana Pemulangan 1. Jelaskan tentang kondisi anak
yang memerlukan perawatan dan
pengobatan. 2. Ajarkan orang tua untuk
mengenal komplikasi, termasuk
menurunnya kesadaran,
perubahan gaya berjalan,
demam, kejang, sering muntah,
dan perubahan bicara. 3. Jelaskan tentang maksud dan
tujuan pengobatan, efek
samping, dan reaksi dari
pemberian obat. 4. Ajarkan orang tua untuk
menghindari injuri bila kejang:
penggunaan sudip lidah,
mempertahankan jalan nafas
selama kejang. 5. Jelaskan dan ajarkan bagaimana
memberikan stimulasi untuk
aktivitas sehari-hari di rumah,
kebutuhan kebersihan personal,
makan-minum. Aktivitas bermain,
dan latihan ROM bila anak mengalami gangguan mobilitas
fisik. 6. Ajarkan bagaimana untuk
mencegah injuri, seperti
gangguan alat pengaman. 7. Tekankan pentingnya kontrol
ulang sesuai dengan jadual. 8. Ajarkan pada orang tua
bagaimana mengurangi
peningkatan tekanan
intrakranial. ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian
• Riwayat kesehatan: waktu
kejadian, penyebab trauma,
posisi saat kejadian, status
kesadaran saat kejadian,
pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
• Pemeriksaan fisik
• Sistem respirasi : suara nafas,
pola nafas (kusmaull, cheyene
stokes, biot, hiperventilasi,
ataksik) • Kardiovaskuler : pengaruh
perdarahan organ atau
pengaruh PTIK
• Sistem saraf :
• Kesadaran à GCS.
• Fungsi saraf kranial à trauma yang mengenai/meluas ke batang
otak akan melibatkan penurunan
fungsi saraf kranial.
• Fungsi sensori-motor à adakah
kelumpuhan, rasa baal, nyeri,
gangguan diskriminasi suhu, anestesi, hipestesia,
hiperalgesia, riwayat kejang.
• Sistem pencernaan
• Bagaimana sensori adanya
makanan di mulut, refleks
menelan, kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah
tersedak. Jika pasien sadar Ã
tanyakan pola makan?
• Waspadai fungsi ADH,
aldosteron : retensi natrium dan
cairan. • Retensi urine, konstipasi,
inkontinensia.
• Kemampuan bergerak :
kerusakan area motorik Ã
hemiparesis/plegia, gangguan
gerak volunter, ROM, kekuatan otot.
• Kemampuan komunikasi :
kerusakan pada hemisfer
dominan à disfagia atau afasia
akibat kerusakan saraf
hipoglosus dan saraf fasialis. • Psikososial à data ini penting
untuk mengetahui dukungan
yang didapat pasien dari
keluarga.
B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah: 1. Resiko tidak efektifnya bersihan
jalan nafas dan tidak efektifnya
pola nafas berhubungan dengan
gagal nafas, adanya sekresi,
gangguan fungsi pergerakan,
dan meningkatnya tekanan intrakranial. 2. Perubahan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan
edema serebral dan peningkatan
tekanan intrakranial. 3. Kurangnya perawatan diri
berhubungan dengan tirah
baring dan menurunnya
kesadaran. 4. Resiko kurangnya volume cairan
berhubungan mual dan muntah. 5. Resiko injuri berhubungan
dengan menurunnya kesadaran
atau meningkatnya tekanan
intrakranial. 6. Nyeri berhubungan dengan
trauma kepala. 7. Resiko infeksi berhubungan
dengan kondisi penyakit akibat
trauma kepala. 8. Kecemasan orang tua-anak
berhubungan dengan kondisi
penyakit akibat trauma kepala. 9. Resiko gangguan integritas kulit
berhubungan dengan immobilisasi. • Intervensi Keperawatan
• Resiko tidak efektifnya jalan
nafas dan tidak efektifnya pola
nafas berhubungan dengan gagal
nafas, adanya sekresi, gangguan
fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan
intrakranial.
Tujuan : Pola nafas dan bersihan
jalan nafas efektif yang ditandai
dengan tidak ada sesak atau
kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan pernafasan dalam
batas normal.
Intervensi :
• Kaji Airway, Breathing,
Circulasi.
• Kaji anak, apakah ada fraktur cervical dan vertebra. Bila ada
hindari memposisikan kepala
ekstensi dan hati-hati dalam
mengatur posisi bila ada cedera
vertebra.
• Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret.
Bila ada sekret segera lakukan
pengisapan lendir.
• Kaji status pernafasan
kedalamannya, usaha dalam
bernafas. • Bila tidak ada fraktur servikal
berikan posisi kepala sedikit
ekstensi dan tinggikan 15 – 30
derajat.
• Pemberian oksigen sesuai
program. • Perubahan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan
edema serebral dan peningkatan
tekanan intrakranial.
Tujuan : Perfusi jaringan
serebral adekuat yang ditandai dengan tidak ada pusing hebat,
kesadaran tidak menurun, dan
tidak terdapat tanda-tanda
peningkatan tekanan
intrakranial.
Intervensi : • Tinggikan posisi kepala 15 –
30 derajat dengan posisi
“midline” untuk menurunkan
tekanan vena jugularis.
• Hindari hal-hal yang dapat
menyebabkan terjadinya • peningkatan tekanan
intrakranial: fleksi atau
hiperekstensi pada leher, rotasi
kepala, valsava meneuver,
rangsangan nyeri, prosedur
(peningkatan lendir atau suction, perkusi).
• tekanan pada vena leher.
• pembalikan posisi dari samping
ke samping (dapat menyebabkan
kompresi pada vena leher).
• Bila akan memiringkan anak, harus menghindari adanya
tekukan pada anggota badan,
fleksi (harus bersamaan).
• Berikan pelembek tinja untuk
mencegah adanya valsava
maneuver. • Hindari tangisan pada anak,
ciptakan lingkungan yang
tenang, gunakan sentuhan
therapeutic, hindari percakapan
yang emosional.
• Pemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan
intrakranial sesuai program.
• Pemberian terapi cairan
intravena dan antisipasi
kelebihan cairan karena dapat
meningkatkan edema serebral. • Monitor intake dan out put.
• Lakukan kateterisasi bila ada
indikasi.
• Lakukan pemasangan NGT bila
indikasi untuk mencegah aspirasi
dan pemenuhan nutrisi. • Libatkan orang tua dalam
perawatan anak dan jelaskan
hal-hal yang dapat
meningkatkan tekanan
intrakranial.
• Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah
baring dan menurunnya
kesadaran.
Tujuan : Kebutuhan sehari-hari
anak terpenuhi yang ditandai
dengan berat badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan
berat badan, tempat tidur
bersih, tubuh anak bersih, tidak
ada iritasi pada kulit, buang air
besar dan kecil dapat dibantu.
Intervensi : • Bantu anak dalam memenuhi
kebutuhan aktivitas, makan –
minum, mengenakan pakaian, BAK
dan BAB, membersihkan tempat
tidur, dan kebersihan
perseorangan. • Berikan makanan via
parenteral bila ada indikasi.
• Perawatan kateter bila
terpasang.
• Kaji adanya konstipasi, bila
perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudahkan BAB.
• Libatkan orang tua dalam
perawatan pemenuhan
kebutuhan sehari-hari dan
demonstrasikan, seperti
bagaimana cara memandikan anak.
• Resiko kurangnnya volume
cairan berhubungan dengan mual
dan muntah.
Tujuan : Tidak ditemukan tanda-
tanda kekurangan volume cayran atau dehidrasi yang
ditandai dengan membran
mukosa lembab, integritas kulit
baik, dan nilai elektrolit dalam
batas normal.
Intervensi : • Kaji intake dan out put.
• Kaji tanda-tanda dehidrasi:
turgor kulit, membran mukosa,
dan ubun-ubun atau mata
cekung dan out put urine.
• Berikan cairan intra vena sesuai program.
• Resiko injuri berhubungan
dengan menurunnya kesadaran
atau meningkatnya tekanan
intrakranial.
Tujuan : Anak terbebas dari injuri.
Intervensi :
• Kaji status neurologis anak:
perubahan kesadaran,
kurangnya respon terhadap
nyeri, menurunnya refleks, perubahan pupil, aktivitas
pergerakan menurun, dan
kejang.
• Kaji tingkat kesadaran dengan
GCS
• Monitor tanda-tanda vital anak setiap jam atau sesuai
dengan protokol.
• Berikan istirahat antara
intervensi atau pengobatan.
• Berikan analgetik sesuai
program. • Nyeri berhubungan dengan
trauma kepala.
Tujuan : Anak akan merasa
nyaman yang ditandai dengan
anak tidak mengeluh nyeri, dan
tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
• Kaji keluhan nyeri dengan
menggunakan skala nyeri, catat
lokasi nyeri, lamanya,
serangannya, peningkatan nadi, nafas cepat atau lambat,
berkeringat dingin.
• Mengatur posisi sesuai
kebutuhan anak untuk
mengurangi nyeri.
• Kurangi rangsangan. • Pemberian obat analgetik
sesuai dengan program.
• Ciptakan lingkungan yang
nyaman termasuk tempat tidur.
• Berikan sentuhan terapeutik,
lakukan distraksi dan relaksasi. • Resiko infeksi berhubungan
dengan adanya injuri.
Tujuan : Anak akan terbebas
dari infeksi yang ditandai
dengan tidak ditemukan tanda-
tanda infeksi: suhu tubuh dalam batas normal, tidak ada pus dari
luka, leukosit dalam batas
normal.
Intervensi :
• Kaji adanya drainage pada
area luka. • Monitor tanda-tanda vital:
suhu tubuh.
• Lakukan perawatan luka
dengan steril dan hati-hati.
• Kaji tanda dan gejala adanya
meningitis, termasuk kaku kuduk, iritabel, sakit kepala,
demam, muntah dan kenjang.
• Kecemasan orang tua
berhubungan dengan kondisi
penyakit akibat trauma kepala.
Tujuan : Anak dan orang tua akan menunjukkan rasa cemas
berkurang yang ditandai dengan
tidak gelisah dan orang tua
dapat mengekspresikan
perasaan tentang kondisi dan
aktif dalam perawatan anak. Intervensi :
• Jelaskan pada anak dan orang
tua tentang prosedur yang akan
dilakukan, dan tujuannya.
• Anjurkan orang tua untuk
selalu berada di samping anak. • Ajarkan anak dan orang tua
untuk mengekspresikan
perasaan.
• Gunakan komunikasi
terapeutik.
• Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan
immobilisasi.
Tujuan : Tidak ditemukan tanda-
tanda gangguan integritas kulit
yang ditandai dengan kulit tetap
utuh. Intervensi :
• Lakukan latihan pergerakan
(ROM).
• Pertahankan posisi postur
tubuh yang sesuai.
• Rubah posisi setiap 2 jam sekali atau sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi anak.
• Kaji area kulit: adanya lecet.
• Lakukan “back rub” setelah
mandi di area yang potensial
menimbulkan lecet dan pelan- pelan agar tidak menimbulkan
nyeri. KESIMPULAN Trauma kepala terdiri dari
trauma kulit kepala, tulang
kranial dan otak. Klasifikasi
cedera kepala meliputi trauma
kepala tertutup dan trauma
kepala terbuka yang diakibatkan oleh mekanisme cedera yaitu
cedera percepatan (aselerasi)
dan cedera perlambatan
(deselerasi).
Cedera kepala primer pada
trauma kepala menyebabkan edema serebral, laserasi atau
hemorragi. Sedangkan cedera
kepala sekunder pada trauma
kepala menyebabkan
berkurangnya kemampuan
autoregulasi pang pada akhirnya menyebabkan terjadinya
hiperemia (peningkatan volume
darah dan PTIK). Selain itu juga
dapat menyebabkan terjadinya
cedera fokal serta cedera otak
menyebar yang berkaitan dengan kerusakan otak
menyeluruh.
Komplikasi dari trauma kepala
adalah hemorragi, infeksi, odema
dan herniasi. Penatalaksanaan
pada pasien dengan trauma kepala adalah dilakukan
observasi dalam 24 jam, tirah
baring, jika pasien muntah harus
dipuasakan terlebih dahulu dan
kolaborasi untuk pemberian
program terapi serta tindakan pembedahan. DAFTAR PUSTAKA • Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan
Keperawatan Pada Anak , Edisi I.
Jakarta: CV Sagung Seto; 2001.
• Hudak & Gallo. Keperawatan
Kritis, Pendekatan Holistik ,
Volume II. Jakarta: EGC; 1996. • Cecily LB & Linda AS. Buku
Saku Keperawatan Pediatrik .
Edisi 3. Jakarta: EGC; 2000.
• Suzanne CS & Brenda GB. Buku
Ajar Medikal Bedah . Edisi 8.
Trauma kepala adalah suatu
trauma yang mengenai daerah
kulit kepala, tulang tengkorak
atau otak yang terjadi akibat
injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada
kepala. (Suriadi & Rita Yuliani,
2001)
• Klasifikasi
Klasifikasi trauma kepala
berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG): 1. Minor • SKG 13 – 15
• Dapat terjadi kehilangan
kesadaran atau amnesia tetapi
kurang dari 30 menit.
• Tidak ada kontusio tengkorak,
tidak ada fraktur cerebral, hematoma. 1. Sedang • SKG 9 – 12
• Kehilangan kesadaran dan
atau amnesia lebih dari 30 menit
tetapi kurang dari 24 jam.
• Dapat mengalami fraktur
tengkorak. 1. Berat • SKG 3 – 8
• Kehilangan kesadaran dan
atau terjadi amnesia lebih dari
24 jam.
• Juga meliputi kontusio
serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.
• Etiologi
• Kecelakaan, jatuh, kecelakaan
kendaraan bermotor atau
sepeda, dan mobil.
• Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan
ketergantungan.
• Cedera akibat kekerasan.
• Patofisiologis
Cedera memegang peranan yang
sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi
patofisiologis dari suatu trauma
kepala. Cedera percepatan
(aselerasi) terjadi jika benda
yang sedang bergerak
membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan
benda tumpul, atau karena kena
lemparan benda tumpul. Cedera
perlambatan (deselerasi) adalah
bila kepala membentur objek
yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil
atau tanah. Kedua kekuatan ini
mungkin terjadi secara
bersamaan bila terdapat
gerakan kepala tiba-tiba tanpa
kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah
secara kasar dan cepat.
Kekuatan ini bisa dikombinasi
dengan pengubahan posisi rotasi
pada kepala, yang menyebabkan
trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang
otak.
Cedera primer, yang terjadi
pada waktu benturan, mungkin
karena memar pada permukaan
otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi.
Sebagai akibat, cedera sekunder
dapat terjadi sebagai
kemampuan autoregulasi
serebral dikurangi atau tak ada
pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi
(peningkatan volume darah)
pada area peningkatan
permeabilitas kapiler, serta
vasodilatasi arterial, semua
menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya
peningkatan tekanan
intrakranial (TIK). Beberapa
kondisi yang dapat menyebabkan
cedera otak sekunder meliputi
hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi. Genneralli dan kawan-kawan
memperkenalkan cedera kepala
“fokal” dan “menyebar”
sebagai kategori cedera kepala
berat pada upaya untuk
menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan
dari kerusakan fokal yang
meliputi kontusio serebral dan
hematom intraserebral, serta
kerusakan otak sekunder yang
disebabkan oleh perluasan massa lesi, pergeseran otak atau
hernia. Cedera otak menyebar
dikaitkan dengan kerusakan
yang menyebar secara luas dan
terjadi dalam empat bentuk
yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia,
pembengkakan otak menyebar,
hemoragi kecil multipel pada
seluruh otak. Jenis cedera ini
menyebabkan koma bukan
karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera
menyebar pada hemisfer
serebral, batang otak, atau
dua-duanya. • Manifestasi Klinis
• Hilangnya kesadaran kurang
dari 30 menit atau lebih
• Kebungungan
• Iritabel
• Pucat • Mual dan muntah
• Pusing kepala
• Terdapat hematoma
• Kecemasan
• Sukar untuk dibangunkan
• Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar
dari hidung (rhinorrohea) dan
telinga (otorrhea) bila fraktur
tulang temporal.
• Komplikasi
• Hemorrhagie • Infeksi
• Edema
• Herniasi
• Pemeriksaan Penunjang
• Laboratorium: darah lengkap
(hemoglobin, leukosit, CT, BT) • Rotgen Foto
• CT Scan
• MRI
• Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan
therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai
berikut: 1. Observasi 24 jam 2. Jika pasien masih muntah
sementara dipuasakan terlebih
dahulu. 3. Berikan terapi intravena bila
ada indikasi. 4. Anak diistirahatkan atau tirah
baring. 5. Profilaksis diberikan bila ada
indikasi. 6. Pemberian obat-obat untuk
vaskulasisasi. 7. Pemberian obat-obat analgetik. 8. Pembedahan bila ada indikasi. • Rencana Pemulangan 1. Jelaskan tentang kondisi anak
yang memerlukan perawatan dan
pengobatan. 2. Ajarkan orang tua untuk
mengenal komplikasi, termasuk
menurunnya kesadaran,
perubahan gaya berjalan,
demam, kejang, sering muntah,
dan perubahan bicara. 3. Jelaskan tentang maksud dan
tujuan pengobatan, efek
samping, dan reaksi dari
pemberian obat. 4. Ajarkan orang tua untuk
menghindari injuri bila kejang:
penggunaan sudip lidah,
mempertahankan jalan nafas
selama kejang. 5. Jelaskan dan ajarkan bagaimana
memberikan stimulasi untuk
aktivitas sehari-hari di rumah,
kebutuhan kebersihan personal,
makan-minum. Aktivitas bermain,
dan latihan ROM bila anak mengalami gangguan mobilitas
fisik. 6. Ajarkan bagaimana untuk
mencegah injuri, seperti
gangguan alat pengaman. 7. Tekankan pentingnya kontrol
ulang sesuai dengan jadual. 8. Ajarkan pada orang tua
bagaimana mengurangi
peningkatan tekanan
intrakranial. ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian
• Riwayat kesehatan: waktu
kejadian, penyebab trauma,
posisi saat kejadian, status
kesadaran saat kejadian,
pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
• Pemeriksaan fisik
• Sistem respirasi : suara nafas,
pola nafas (kusmaull, cheyene
stokes, biot, hiperventilasi,
ataksik) • Kardiovaskuler : pengaruh
perdarahan organ atau
pengaruh PTIK
• Sistem saraf :
• Kesadaran à GCS.
• Fungsi saraf kranial à trauma yang mengenai/meluas ke batang
otak akan melibatkan penurunan
fungsi saraf kranial.
• Fungsi sensori-motor à adakah
kelumpuhan, rasa baal, nyeri,
gangguan diskriminasi suhu, anestesi, hipestesia,
hiperalgesia, riwayat kejang.
• Sistem pencernaan
• Bagaimana sensori adanya
makanan di mulut, refleks
menelan, kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah
tersedak. Jika pasien sadar Ã
tanyakan pola makan?
• Waspadai fungsi ADH,
aldosteron : retensi natrium dan
cairan. • Retensi urine, konstipasi,
inkontinensia.
• Kemampuan bergerak :
kerusakan area motorik Ã
hemiparesis/plegia, gangguan
gerak volunter, ROM, kekuatan otot.
• Kemampuan komunikasi :
kerusakan pada hemisfer
dominan à disfagia atau afasia
akibat kerusakan saraf
hipoglosus dan saraf fasialis. • Psikososial à data ini penting
untuk mengetahui dukungan
yang didapat pasien dari
keluarga.
B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah: 1. Resiko tidak efektifnya bersihan
jalan nafas dan tidak efektifnya
pola nafas berhubungan dengan
gagal nafas, adanya sekresi,
gangguan fungsi pergerakan,
dan meningkatnya tekanan intrakranial. 2. Perubahan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan
edema serebral dan peningkatan
tekanan intrakranial. 3. Kurangnya perawatan diri
berhubungan dengan tirah
baring dan menurunnya
kesadaran. 4. Resiko kurangnya volume cairan
berhubungan mual dan muntah. 5. Resiko injuri berhubungan
dengan menurunnya kesadaran
atau meningkatnya tekanan
intrakranial. 6. Nyeri berhubungan dengan
trauma kepala. 7. Resiko infeksi berhubungan
dengan kondisi penyakit akibat
trauma kepala. 8. Kecemasan orang tua-anak
berhubungan dengan kondisi
penyakit akibat trauma kepala. 9. Resiko gangguan integritas kulit
berhubungan dengan immobilisasi. • Intervensi Keperawatan
• Resiko tidak efektifnya jalan
nafas dan tidak efektifnya pola
nafas berhubungan dengan gagal
nafas, adanya sekresi, gangguan
fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan
intrakranial.
Tujuan : Pola nafas dan bersihan
jalan nafas efektif yang ditandai
dengan tidak ada sesak atau
kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan pernafasan dalam
batas normal.
Intervensi :
• Kaji Airway, Breathing,
Circulasi.
• Kaji anak, apakah ada fraktur cervical dan vertebra. Bila ada
hindari memposisikan kepala
ekstensi dan hati-hati dalam
mengatur posisi bila ada cedera
vertebra.
• Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret.
Bila ada sekret segera lakukan
pengisapan lendir.
• Kaji status pernafasan
kedalamannya, usaha dalam
bernafas. • Bila tidak ada fraktur servikal
berikan posisi kepala sedikit
ekstensi dan tinggikan 15 – 30
derajat.
• Pemberian oksigen sesuai
program. • Perubahan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan
edema serebral dan peningkatan
tekanan intrakranial.
Tujuan : Perfusi jaringan
serebral adekuat yang ditandai dengan tidak ada pusing hebat,
kesadaran tidak menurun, dan
tidak terdapat tanda-tanda
peningkatan tekanan
intrakranial.
Intervensi : • Tinggikan posisi kepala 15 –
30 derajat dengan posisi
“midline” untuk menurunkan
tekanan vena jugularis.
• Hindari hal-hal yang dapat
menyebabkan terjadinya • peningkatan tekanan
intrakranial: fleksi atau
hiperekstensi pada leher, rotasi
kepala, valsava meneuver,
rangsangan nyeri, prosedur
(peningkatan lendir atau suction, perkusi).
• tekanan pada vena leher.
• pembalikan posisi dari samping
ke samping (dapat menyebabkan
kompresi pada vena leher).
• Bila akan memiringkan anak, harus menghindari adanya
tekukan pada anggota badan,
fleksi (harus bersamaan).
• Berikan pelembek tinja untuk
mencegah adanya valsava
maneuver. • Hindari tangisan pada anak,
ciptakan lingkungan yang
tenang, gunakan sentuhan
therapeutic, hindari percakapan
yang emosional.
• Pemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan
intrakranial sesuai program.
• Pemberian terapi cairan
intravena dan antisipasi
kelebihan cairan karena dapat
meningkatkan edema serebral. • Monitor intake dan out put.
• Lakukan kateterisasi bila ada
indikasi.
• Lakukan pemasangan NGT bila
indikasi untuk mencegah aspirasi
dan pemenuhan nutrisi. • Libatkan orang tua dalam
perawatan anak dan jelaskan
hal-hal yang dapat
meningkatkan tekanan
intrakranial.
• Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah
baring dan menurunnya
kesadaran.
Tujuan : Kebutuhan sehari-hari
anak terpenuhi yang ditandai
dengan berat badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan
berat badan, tempat tidur
bersih, tubuh anak bersih, tidak
ada iritasi pada kulit, buang air
besar dan kecil dapat dibantu.
Intervensi : • Bantu anak dalam memenuhi
kebutuhan aktivitas, makan –
minum, mengenakan pakaian, BAK
dan BAB, membersihkan tempat
tidur, dan kebersihan
perseorangan. • Berikan makanan via
parenteral bila ada indikasi.
• Perawatan kateter bila
terpasang.
• Kaji adanya konstipasi, bila
perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudahkan BAB.
• Libatkan orang tua dalam
perawatan pemenuhan
kebutuhan sehari-hari dan
demonstrasikan, seperti
bagaimana cara memandikan anak.
• Resiko kurangnnya volume
cairan berhubungan dengan mual
dan muntah.
Tujuan : Tidak ditemukan tanda-
tanda kekurangan volume cayran atau dehidrasi yang
ditandai dengan membran
mukosa lembab, integritas kulit
baik, dan nilai elektrolit dalam
batas normal.
Intervensi : • Kaji intake dan out put.
• Kaji tanda-tanda dehidrasi:
turgor kulit, membran mukosa,
dan ubun-ubun atau mata
cekung dan out put urine.
• Berikan cairan intra vena sesuai program.
• Resiko injuri berhubungan
dengan menurunnya kesadaran
atau meningkatnya tekanan
intrakranial.
Tujuan : Anak terbebas dari injuri.
Intervensi :
• Kaji status neurologis anak:
perubahan kesadaran,
kurangnya respon terhadap
nyeri, menurunnya refleks, perubahan pupil, aktivitas
pergerakan menurun, dan
kejang.
• Kaji tingkat kesadaran dengan
GCS
• Monitor tanda-tanda vital anak setiap jam atau sesuai
dengan protokol.
• Berikan istirahat antara
intervensi atau pengobatan.
• Berikan analgetik sesuai
program. • Nyeri berhubungan dengan
trauma kepala.
Tujuan : Anak akan merasa
nyaman yang ditandai dengan
anak tidak mengeluh nyeri, dan
tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
• Kaji keluhan nyeri dengan
menggunakan skala nyeri, catat
lokasi nyeri, lamanya,
serangannya, peningkatan nadi, nafas cepat atau lambat,
berkeringat dingin.
• Mengatur posisi sesuai
kebutuhan anak untuk
mengurangi nyeri.
• Kurangi rangsangan. • Pemberian obat analgetik
sesuai dengan program.
• Ciptakan lingkungan yang
nyaman termasuk tempat tidur.
• Berikan sentuhan terapeutik,
lakukan distraksi dan relaksasi. • Resiko infeksi berhubungan
dengan adanya injuri.
Tujuan : Anak akan terbebas
dari infeksi yang ditandai
dengan tidak ditemukan tanda-
tanda infeksi: suhu tubuh dalam batas normal, tidak ada pus dari
luka, leukosit dalam batas
normal.
Intervensi :
• Kaji adanya drainage pada
area luka. • Monitor tanda-tanda vital:
suhu tubuh.
• Lakukan perawatan luka
dengan steril dan hati-hati.
• Kaji tanda dan gejala adanya
meningitis, termasuk kaku kuduk, iritabel, sakit kepala,
demam, muntah dan kenjang.
• Kecemasan orang tua
berhubungan dengan kondisi
penyakit akibat trauma kepala.
Tujuan : Anak dan orang tua akan menunjukkan rasa cemas
berkurang yang ditandai dengan
tidak gelisah dan orang tua
dapat mengekspresikan
perasaan tentang kondisi dan
aktif dalam perawatan anak. Intervensi :
• Jelaskan pada anak dan orang
tua tentang prosedur yang akan
dilakukan, dan tujuannya.
• Anjurkan orang tua untuk
selalu berada di samping anak. • Ajarkan anak dan orang tua
untuk mengekspresikan
perasaan.
• Gunakan komunikasi
terapeutik.
• Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan
immobilisasi.
Tujuan : Tidak ditemukan tanda-
tanda gangguan integritas kulit
yang ditandai dengan kulit tetap
utuh. Intervensi :
• Lakukan latihan pergerakan
(ROM).
• Pertahankan posisi postur
tubuh yang sesuai.
• Rubah posisi setiap 2 jam sekali atau sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi anak.
• Kaji area kulit: adanya lecet.
• Lakukan “back rub” setelah
mandi di area yang potensial
menimbulkan lecet dan pelan- pelan agar tidak menimbulkan
nyeri. KESIMPULAN Trauma kepala terdiri dari
trauma kulit kepala, tulang
kranial dan otak. Klasifikasi
cedera kepala meliputi trauma
kepala tertutup dan trauma
kepala terbuka yang diakibatkan oleh mekanisme cedera yaitu
cedera percepatan (aselerasi)
dan cedera perlambatan
(deselerasi).
Cedera kepala primer pada
trauma kepala menyebabkan edema serebral, laserasi atau
hemorragi. Sedangkan cedera
kepala sekunder pada trauma
kepala menyebabkan
berkurangnya kemampuan
autoregulasi pang pada akhirnya menyebabkan terjadinya
hiperemia (peningkatan volume
darah dan PTIK). Selain itu juga
dapat menyebabkan terjadinya
cedera fokal serta cedera otak
menyebar yang berkaitan dengan kerusakan otak
menyeluruh.
Komplikasi dari trauma kepala
adalah hemorragi, infeksi, odema
dan herniasi. Penatalaksanaan
pada pasien dengan trauma kepala adalah dilakukan
observasi dalam 24 jam, tirah
baring, jika pasien muntah harus
dipuasakan terlebih dahulu dan
kolaborasi untuk pemberian
program terapi serta tindakan pembedahan. DAFTAR PUSTAKA • Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan
Keperawatan Pada Anak , Edisi I.
Jakarta: CV Sagung Seto; 2001.
• Hudak & Gallo. Keperawatan
Kritis, Pendekatan Holistik ,
Volume II. Jakarta: EGC; 1996. • Cecily LB & Linda AS. Buku
Saku Keperawatan Pediatrik .
Edisi 3. Jakarta: EGC; 2000.
• Suzanne CS & Brenda GB. Buku
Ajar Medikal Bedah . Edisi 8.
Langganan:
Postingan (Atom)